Translate

Minggu, 11 Oktober 2020

Cinta yang Disakiti

 Hujan telah lama berlalu namun aku masih disini, menunggumu. Aku tak bisa berbuat apa-apa dan itu menyedihkan. Ku harap aku tidak terlihat buruk di matamu.

Kau mendapatiku berubah dan itu memang benar. Namun ada kebenaran lain yang jauh lebih penting yaitu kebenaran bahwa aku masih percaya padamu meski kau telah melakukan itu padaku. Aku sama sekali tak mempedulikannya. Aku menyukaimu lebih dari apapun. Itu yang terpenting.

Terlalu banyak orang yang terlibat disini sehingga hal ini bukan lagi tentang kau dan aku. Benar-benar...

Pada akhirnya aku harus menyerah. Aku tahu kalau ini akan terjadi tapi... aku memang bodoh karena itu aku tetap melakukannya. Aku hanya memiliki sebuah keegoisan dan itu adalah tentang apa saja yang penting aku bisa bersamamu.

Aku tahu jika apa yang ku lakukan ini akan melukaimu tapi ia juga melukaiku. Sangat sakit hingga aku mau mati. Kalau ada pilihan di depanku, aku pasti tidak akan segan untuk memilihnya, yang tidak menyakiti kau atau pun aku. Aku benar-benar tidak tahan untuk terus bersikap kuat di depanmu dan aku hampir setiap waktu dihantui kecemasan bahwa kau suatu hari nanti akan mengetahuinya.

Aku ingin kau selamanya tak pernah tahu tentang itu. Kau hanya mengenalku sebagai seorang gadis yang kuat. Itulah inginku.


Surabaya, 11 November 2017
Post: Senin, 12 Oktober 2020

Jumat, 18 September 2020

Pengakuan

 

Pengakuan

 

 

Kenapa?

Kenapa? Selalu saja......

Kenapa aku......

Dan kenapa aku mesti....

            Selalu saja ada. Pertanyaan itu. Selalu kenapa dan kenapa. Ku tak tahu mesti kenapa. Ku merasa bingung hingga menjadikanku tak berguna. Aku ragu, emakin menambah tak bergunaanku. Kenapa selalu aku. Aku tak dihargai. Ku tak diangap. Tak ada yang menyadari keberadaanku. Tak ada yang menoleh, memerhatikan, ataupun menyapaku. Apalagi bercakap denganku.

            Tapi, harga dari orang lain yang diberikan pada diri itu jauh lebih penting. Harga terhadap diri yang diberikan oleh orang itu bukanlah berupa materi. Tapi, penghargaan yang diberikan berupa penghormatan terhadap diri. Karena dengan merhargai itu sudah mencakup keseluruhan. Pengakuan, pasti ada. Karena ada penauan maka penghargaan menjadi ada.

            "Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain."

            Kalimat itu adalah kalimat yang berasal dari nabi.Yaitu salah satu dari ribuan, bahkan puluh ribuan, hadist nabi. Kalimat itu mengisaratkan kalau mausia yang aik adalah manusia yang berguna (bermanfaat) bagi manusia yang lain. Berarti nilai seseorang itu ditentukan oleh seberapa banyak ia dimanfaatkan oleh orang lain. Namun agaknya kata itu terlalu kasar untuk diucapkan. Manusia itu dinilai berdasarkan dari seberapa besar ia bermanfaat atau mungkin membantu orang lain ( namun intinya tetap saja bermanfaat bagi orang lain).

            Namun jika seberapa banyak ia bermanfaat, mungkin orang yang di sebut kuli pesuruh atau relawanlah yang menang. Karena mereka benar-benar bermanfaat bagi orang lain, bahkan sampai dimafaatkan. Tapi kata dimanfaatkan itu memiliki arti yang sungguh tak mengenakkan. Dimanfaatkan. Siapa yang mau dimanfaatkan?

            Mana ada orang yang mau dimanfaatkan oleh orang lain. Itu nampak seperti merendahan derajatnya, tak dihargai atau dianggap remeh. Utamanya dimata orang itu dan dimata orang lain, karena tak memiliki harga, tak berguna, bahkan mungkin ia lebih baik dimanfaatkan daripada hidup tak berguna, dianggap ia bodoh, atau apalah. Ada juga orang yang berasumsi seperti itu. Entah itu orang yang memanfaatkan atau yang dimanfaatkan.

            Orang yang "memanfaatkan" biasanya ia lebih tinggi derajatnya dari pada orang lain hingga ia memandang orang lain itu rendah. Tanpa ada dia orang itu takkan berguna. Dan tanpa ada dia ia takkan berarti apa-apa, karena ialah yang membuthkan orang yang lebih tinggi darinya. Sebaliknya orang yang "dimanfaatkan" itu justru bangga dengan keadaannya. Ia direndahkan malah bangga. Diremehkan malah bangga. Ia berasumsi kalau ia sangat berarti bagi orang itu. Ia tak merisaukan dan bangga dngan gelarnya yang dijadikan sebagai orang rendahan.

            Semua itu sudah lumrah terjadi didunia ini. Kaya yag miskin. Memanfaatkan dan dimanfaatkan. Sekitar lingkungan kita juga banyak. Hanya saja mungkin bahasanya yang di perhalus. Antara orang satu dengan orang yang lain memiliki hubungan yang takkan pernah terpisahkan. Mereka akan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Sudah hukum alam.

            Terkadang aku juga berpikiran seperti itu, dimanfaatkan oleh orang lain itu lebih baik dari pada tak bermanfaat bagi orang lain. Paling tidak ada yang membutuhkanku walaupun begitu.

+++

            Tapi kenapa? Selalu saja aku!

            Aku. Selalu saja aku. Aku tak tak bisa. Ingin rasanya aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Mencurahkan semua yang mengganjal di hatiku, memenuhi jiwaku. Andai kalau aku bisa mencurahkan sedih ku, mungkin aku menjadi lebih baik. Tapi ku tak bisa. Sedih itu kini telah berubah menjadi amarah. Dan kini amarah itu menyelimuti hatiku. Terasa sesak. Di dada.

            Kenapa?

            Aku selalu tak bisa terima itu. Aku tak bisa terima kalau aku dipandang remeh oleh orang lain. Entah itu temanku, keluargaku, apalagi guruku. Aku tahu seberapa besar kemampuanku. Seberapa bakatku. Aku tahu itu. Aku menyadari itu. Tapi aku? Aku ingin membuktikan keberadaanku. Kemampuanku. Bakatku. Aku ingin mereka menyadari keberadaanku. Seberapa berharganya diriku. Aku pasti bisa. Hanya saja, aku perlu waktu yang cukup lama untuk membuktikannya.

+++

            Dan kenapa mesti aku?

            Sungguh, jika kupikirkan terus aku takkan pernah merasakan ketenangan dalam hidupku.

Sepupu dan Komikku

 

Sepupu dan Komikku

Kenapa bulu kuduk berdiri? Tak terdengar setitik suara pun. Yang terdengar hayna rengekan pedal yang mengeluh kena injakan kaki. Terlihat jauh disana ada banyak orang sedang berlomba dengan burung-burung untuk mencari rizki. Ada sekelompok ibu-bu yang bersemangat untuk menanam pagi. Bahkan ada juga bapak-bapak yang disibukkan oleh burung-urung, yang mencuri biji-iji padi.

Surya masih bersembunyi dibalik gunung seakan enggan untuk keluar. Angin berdesis. Rara mencoba menggenggam lengan kirinya dengan tangan kanannya karena angin berkroyokan masuk melewati celah-celah baju.

“Uh, dinginnya!” gumammnya. Dan beberapa kali bergantian dengan tangan kanannya.

Rara merasa dingin, adem-panas-adem-panas. Aduh, kenapa ini? Tangan berkeringat, sebentar-sebentar mengusap tangannya. Kenapa jadi berkeringat begini padahal baru beberapa menit lalu mandi dan matahari tak telrihat sinarnya. Kenapa jadi deg-deg-an, ada perasaan takut dan senang. Tengok kanan, tengok kiri.

Didapatinya ada seorang duduk di atas motr. Masih lengkap dengan helm dan jaket serta sarung tangan. Tepat di depan toko. Daritadi dia asyik terus mandangi Rara.

“Aduh, jadi salah tingkah nih! Kenapa juga orang itu?! Ha!” batiin Rara. Lalu menganyuh pedal sepedanya lebih cepat. Tapi Rara merasa kalau orang itu masih memperhatikannya.

“Aaaaa...” gumamya. Lebih cepat lagi mengayuh sepeda. Untung madrasah suda dekat. Lebih baik daripada yang tadi, hati terasa lebih tenang.

Srek. Srek. Srek. Suara tukang kebun sedang mengerjakan tuasnya. Rar menyusuri halaman sekolah dengan menyeret sepedanya. Berjalan dengan santai menuju kelas.

Sesampainya di emperan kelas,

“Hei, tumben berangkat pagi?” sapa Ana. Menghentikan langkah Rara.

“Ih, kau ini!” menggedor kaca di depannya. “Hampir saja jantungku copot!” mencoba menenangkan diri.

“Eh, awas kacanya pecah!” teriak Ana.

“Ih...” menggedor lagi. Dengan spontan Ana menghindar.

“Yah, nggak kena deh!” ejek Ana dari dalam.

“Ih..” gemes kepada Ana. Lalu Rara berjalan cepat masuk ke kelasnya. “Ih, mau aku pites kamu?” Rara gemes. Tertawa bersama ejenak

“Kok berangkat pagi-pagi sekali?” tanya Ana setelah duduk.

“Kepagian ya? Apa sebaiknya aku pulang lagi?” mulai bersandar.

“Kalau kau mau ya boleh-boleh aja!”

“Kalau kau mau mengantar ya ngga masalah. Ayo!” menyeret tangan Ana.

“Ah, engga-ngga. Cuma bercanda kok!” Ana tertawa.

“Aku juga!” Rara tertawa.

“Aku kira beneran!”

“IH, ya nggalah! Aku ngga mau balik lagi. Serem deh ketemu orang itu!” bergidik.

“Orang siapa?” Ana tak mengerti.

“Aku juga ngga tahu. Dia memperhatikan ku dengan memakai helm jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Otomatis aku juga tidak tahu siapa dia. Tapi sepetinya aku kenal deh!” duga Rara.

 

Tak terasa sudah banyak orang yang datang. dari jauh terdengar suara yang memanggil-manggil nama Rara.

“Rara! Rara! Rara!” suaranya semakin mendekat.

“Rara!” gemes kepada Rara. Sampa-samapai menarik-narik baju Rara.

“Iza, kenapa? Jangan tarik-tarik bajuku?” mencoba melepas pegangan Iza,

“Ra, yang kamu tunggu-tunggu sudah datang loh!” masih tetap menarik-narik bau Rara.

“Hei, apanya yang ditunggu-tunggu?” Ana mencolek Iza.

“Komik kesukaanmu, Ra!” kata Iza semangat.

“Benarkah?” Rara memastikan. Terukr senyum diwajahnya.

“Ya elah, komik!” seru Ana.

“Iya. Kalau ngga percaya coba ke toko buku sekarang. Tapi semoga masih ada ya!”

“Kau tahu darimana Za?” masih belum yakin. Tapi dia sudah nggak sabar kelihatnnya.

“Dari temenku. Cepet nanti keburu habis loh!” za sudah mau pergi. “Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya. Bye!” Iza pergi. Tapi masih sempat-sempatnya mencubit pipi Rara.

“Ih, aku jadi ngga sabar.” Senangnya hati Rara.

“Hei, sabar saja! Masih nanti sore tuh! Simpan semangatmu untuk nanti!” saran Ana.

“Ih, senangnyaku!” menarik baju Ana sambil loncat-loncat saking gembiranya. “Aku ngga sabar menunggu nanti sore.” Masih terus saja lompat-lompat.

“Ngga malu ya dilihat anak-anak lain?” Rara tertawa gembira. “Ih!” teriaknya gemes.

“Hei, lepaskan bajuku!” marahi Ana. Tapi Rara malah cengar-cengir.

Kringggg.

Suara bel panjang berbunyi sudah waktunyantuk pulang. rara yang sudah ngga sabar dari pagi begitu gurunya keluar langsung ikut keluar. Mengambil sepedanya dan siap untuk pergi.

Dibawah terik matahari sore Rara dengan penuh semangat mengayuh sepedanya menuju ke toko buku. Dengan hati berbinar-binar dia menuju ke sebuah toko. Akhirnya sampailah ia di toko itu. Dengan perasaan gembira serta diiringi senyum, Rara memarkir sepedanya.

Dengan penuh keyakina dia mengarahkan langkah kaki ke lantai toko itu. Hati berbunga-bunga sudah tak sabar untuk menunggu beberapa menit lagi. Dengan keyakinan yang mantap dia memegang gagang pintu dan membukanya. Dariluar tooko, terlihat Rara bersemangat menuju tempat buku komik.

Beberapa saat elah berlalu Rara keluar dari toko. Menutup pintu dengan pelan. Menghela nafas sejenak. Wajahnya telrihat masam. Wajah cerianya tadi telah ditelan oleh toko itu. Apa gerangan yang terjadi padanya? Rara telrihat tak bertenaga, kenapa dia berubah secepat itu?

“Aaaa!” teriaknya teahan. Malu didengar orang. Nanti dikiranya yang bukan-bukan. Hatinya mendongkol, ingin cepat-cepat menegur Iza. “Awas nanti!” geramnya pada diri sendiri.

Rara mengayuh sepedanya lebih lcepat. Sudah gak sabar, dan hatinya geregetan.

“Za, gak ada!” kata Rara keras. “Oh, katamu ada, aku sudah dari sana dan ternyata apa? Sudah habis?!” protesku.

“Hei, baru aku angkat sudah teriak-teriak!”

“Ih, jangan keras-keras Za! Aku mendengarnya, kau mau membuat telingaku sakit?” sudah sedikit tenang. Terdengar Iza menghela nafas.

“Kamu juga sih. Aku kan tadi bilang, ‘kalau masih ada’. Soalnya kata temanku itu tinggal satu. Mungkin buku itu sudah terbit darikemarin!” jelas Iza.

“Terus gimana dong?”

“Hihihi!” terdengar diseberang sana Iza merasa geli.

Iya aka ku coba untuk cari informasinya.” Iza mau membantu.

“Kalau begitu terima kasih ya! Iza baik deh!” sok manis.

“Yee, maunya. Ya sudah cepet matikan telponnya!” Iza mengakhiri.

“Ohya. Bye. Awas jangan lupa!” Rara mengingatkan.

“Iyaya. Pokoknya beres. Ya amp....” Dan telponnya sudah dimatikan.

Besoknya ketepatan dengan hari Jumat. Pulangnya tidak kesorean. Jam 2 sore Rara janjian dengan Iza mau ke toko buku yang telah dibicarakan oleh Iza tadi pagi. Hari ini Iza akan dtang ke rumah Rara.

Rara yang nggak sabar dari kemarin sudah menunggu Iza dari tadi. “Aduh, Iza kok belum datang juga!” katanya pada diri sendiri. Ra berdiri di depan rumahnya. Di tengah jalan Rara melihat kanan dan kiri. Menunggu kedatangan Iza.

Beberapa saat kemudian, Rara dikejutkan oleh suara klakson sepeda motor.

“Hei, lama banget sih!” seru Rara setelah dilihatnya Iza.

“Em, ya gak lah!” menghentikan motornya. “Malahan belum ada jam 2.” Kata Iza setelah melihat jam tangan ungu yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

“YA sudah. Ayo cepat kesana! Nanti keburu habis lagi!” Rara naik.

“Ngga sabaran banget sih!” Iza mulai menjalankan motornya menyurusi jalanan beraslpa. Dalam hati Rara sudah geregetan ingin baca buku itu. Sudah 6 bulan lamanya dia menunggu terbitnya buku itu. Uang sakunya sengaja ia kumpulkan untuk persiapan membeli buku itu.

Di tengah jalan Rara bertanya.

“Ngomong-ngomong kita mau ke toko buku mana Za?” Rara ingin tahu.

“Ke toko Bang Jon!” sahut Iza.

“Toko bang Jon itu dimana?”

“Sudahlah jangan tanya lagi nanti juga tahu. Pokoknya ada deh kamu tinggal beli aja!”

“Ya udah kalau gitu!” Rara tersenyum.

Tak terasa sudah sampai di tujuan. Dengan segera Rara dan Iza masuk ke toko itu. Ternyata sulit juga mencari tempat buku-buku. Mereka kebingungan mencari tempatnya.

“Za kamu yakin ini tempatnya?” tanya Rara memastikan, “jann-jangan salah lagi!” duga Rara.

“Ngga kok, bener ini. Kata temanku tempatnya mirip supermarket. Kamu tadi juga melihatnya kan? Ada papan namanya?” Rara mengangguk.

“Coba tanya karyawannya saja, ya?” usul Iza.

“Iya. Iya.” Rara langsung setuju.

Kebetulan ada seorang karyawan yang melintas di depan mereka membawa sesuatu. Dengan segera Rara menghentikannya.

“Permisi, Maz. Tempat buku dimana ya?” tanya Rara tanpa ragu.

“O, disana. Lurus saja!” jawabanya dengan ramah. Rara mengikuti petunjuk kakak itu dengan matanya.

“Terima kasih, Mas!” ucap Iza. Kakak itu lalu pergi tapi Rara tepat diam saja. “Hei, terima kasihnya telat!” kata Iza pada Rara.

“Ohya?” dilihatnya kaa tadi sudah tidak ada.

“Sudah pergi, Non!” sahut Iza.

“YA udah kalau gitu!” Rara menuju tempat yang telah diberitahu kakak tadi. Iza mengekor di belakangnya.

“Ra, pelan-pelan!”

“Ngga mau. Waktu ku udah banyak kebuang. Aku dari tadi merasa nggaenak. Kalau kehabisan lagi gimana?” Rara terus berjalan.

Sampai di bagian buku, Rara masih harus mencari bagian buku komik. Iza muter-muter mengikutinya. Akhirnya Rara melihat ulisan di atas rak seukuran bahu yang menunjukkan buku komik. Dengan segera Rara menuju kesana.

Tapi disana ada seseorang. Berdiri diam tak bergerak. Orang itu sepertinya bingnug mau ngambil yang mana. Dia mengambil dan mengamati buku itu bergantian. Dari dekat terlihat jelas kalau dia seorang cowok, tinggi, mengenakan kaos biru ditambah jaket yang tak dikancingkan. Rara merasa sepertinya pernah melihat cowok itu.

“Ah, gak penting!” batinnya.

Lalu Rara memfokuskan perhatiannya pada tumpukan komik yang ada di hadapannya. Lama memilah-milah tapi tak kunjung menemukan buku yang dicari. Rara terkejjut, buku komik yang sedang ia cari-cari ternyata ada di tangan cowok itu. Rara geregetan ingin merampas tapi ragu.

Rara mencoba cari cara lain selagi orang itu sibuk dengan pilihannya. Cowok itu pun dari tadijuga memperhatikan Rara dan Iza yang sedang sibuk dengan buku-buku di hadapan mereka. Dia mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan Rara dan Iza. Akhirnya Rara mendapatkan ide.

Saat mau menjalankan idenya, tiba-tiba.

“Ra, mau ngapain?” bisik Iza. Yang otomatis menghentikan rencananya.

“Ish, diam!” tukas Rara. Cowok itu melihat kedua gadis sedang bisik-bisik, dikiranya mereka mau ke tempatnya. Jadilah ia putuskan untuk pergi.

“Rara!” suara Iza keras karena kesal pada Rara, yang tidak mau cerita apa yang dipikirkannya.

Cowok itu pun mendengarnya sehingga sempat terhenti. “rra? Apa salah satu diantara mereka ada yang bernama Rara? Rara yang lain atau?” pikir cowok itu.

“Ih!” kesal Rara. Rencananya gagal sebelum dikerjakan.

“Kenapa sih Ra?” Iza ikutan kesal.

“Tuh, kan gara-gara kamu sih dia pergi!” Rara kecewa.

“Terus gimana dong? Memangnya apa sih rencanamu tadi?” Iza ingin tahu.

“Tadinya aku mau mempengaruhinya agar dia mau memberikan komik itu padaku.” Kata Rara kecewa. “Tapi aku tidak boleh berhenti sampai disini. Aku harus mendapatkanny! Sudah di depan mata lagi!” Rara bersemangat lagi.

“Itulah Rara!” Iza mendukungnya. Segera Rara mencari cowok itu.

Dari kejauhan terlihat cowok itu sedang membayar di kasir. Agar tidak kehilangan cowok itu, Rara berlari untuk menghentikannya. Namun ternyata cowok itu sudah selesai dan keluar dari toko. Rara meninggalkan Iza yang berada di belakangnya dan menghentikannya.

“Mas, tunggu!” Rara berhenti tepat di depan cowok itu hingga mengagetkannya. Dia terlihat bingung dengan kehadiran Rara yang tiba-tiba.

“Mas boleh gak komiknya aku beli? Plis, Mas! Tolong aku!” Rara mencoba membujuk. Memasang tampang memelas dan merayu.

Orang yang dipanggil ‘mas’ tadi heran.

“Apa? Komik? Bukannya masih ada di dalam?”

“Tapi yng sama dengan dengan yang mas bawa sudah gak ada.” Membuat cowok itu tembah heran.

“Ayolah Mas! Tolong, hanya tinggal ini saja mas yang ada!” memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Cowok itu malah tersenyum melihat gadis di depannya memohon-mohon.

“Maaf dik, aku tak bisa bantu. Soalnya buku ini mau aku berikan pada adikku!” jawabnya setelah senyum. Lalu pergi menuju motornya.

Masih dilihatnya cowok itu. Apalagi tas di bawanya dengan tatapan tak rela. Rara ingin sekali mengambil buku di tas itu. Lalu, “Loh, bukannya motor itu motor yang dulu?” mengingat-ingat. “Tapi pabrik tiakd buat Cuma satu kan?” tepisnya kemudian.

Dengan tangan hampa Rara menuju ke tempat Iza menunggu. Pupus sudah keinginannya sudah di depan mata disambar orang duluan. Betapa kesal dan kecewanya perasaan Rara.

“Ra, gimana? Dapat?” tanya Iza.

“Dapat apa? Aku sudah mohon-mohon tapi dia tidak kasihan padaku!” jawabnya lesu. Lalu akhirnya mereka pulang.

 

 

Rara tak haya larut dalam kekecewaan yang lalu biarlah berlalu. Kini dia bersemangat lagi, yang lalu dilepaskannya. Sekarang Rara harus bersabar lagi untuk menunggu terbitnya buku itu.

Dia berangkat ke sekolah dengan ceria. Semangat baru untuk hari baru.

Tak disangka, ternyata hari ini pulang lebih awal. Belum ada setetes keringat pun yang menetes sudah dipulangkan. Jadi Rara pulang lebih awal dan juga akan lama berada di rumah.

Ketika hampir tiba di rumah, Rara melihat oarng yang yang tak asing. Laju sepda Rara perlahan melambat. Orang itu mengenakan perlengkapan berkendara lengkap. Mulai dari helm, jaket, sarung tangan, bersepatu dan membawa tas. Dan dia melihat kehadiran Rara.

Rara menambah kecepatannya begitu melintas di depannya. “Sepertinya pernah lihat!” batin Rara. “Oh, yang waktu itu! Depan toko!” Rara menambah kecepatannya lagi.

Orang itu masih memperhatikan Rara. Saat ada orang melintas, segera di hentikannya.

“Maaf, Pak! Permisi. Saya mau tanya.” Katanya setelah membuka helm.

Setelah mendapatkan jawabannya dikenakannya lagi helm dan mulai mengendarai motornya. Cowok itu berhenti tepat di depan rumah Rara. Rara yang mengetahui kedatangannya langsung lari masuk rumah dan bergidik.

Di dalam rumah, ibu Rara mendengar kedatangan Rara dan menghampirinya.

“Ada apa sih? Pake lari-lari segala!” tanya ibunya lembut.

“Itu, Bu ada orang misterius. Takut aku!” bergidik.

“Ada-ada saja kamu, Ra!” ibunya menggeleng dan tersenyum. Rara lari menuju kamarnya.

Terdengar seseorang telah membunyikan bel. Dengan segera ibu Rara membukakan pintu. Dari dalam kamar Rara mendengar ibunya tertawa dengan seseorang. Rara merasa terusik dan memutuskan untuk keluar.

Rara berjalan dengan penaaran. Sampai segitunya ibunya tertawa.

Betapa terkejutnya Rara melihat seorang cowok tak asing sedang berbicara dengan ibunya.

“Iya, bener. Dia orang di toko itu! Orang yang telah mengambil buku komikku!” batin Rara.

Ibu Rara menyadari kehadiran Rara menyuruh Rara duduk di sampingnya. Rar amasih heran dengan inu semua. Cowok itu pun sepertinya tidak terkejut dengan kehadiran Rara. Malah tersenyum terus, tebar pesona. Lalu.

“Ra, kamu masih ingat gak dengan dia?” tanya ibunya. Menunjuk cowok itu.

“Siapa, Bu? Dia?!” masih bingung.

“Hei, Ra! Masa kamu lupa denganku?” kata cowok itu sok akrab.

“Mana mungkin kulupa! Kakak yang merebut bukuku kan?!” teriak Rara.

“Rara, apa maksudmu?” ibunya ganti tak mengerti. Cowok itu malah tertawa menambah jengkel hati Rara.

Lalu cowok itu mendekati Rara.

“Hei, mau apa?” teriaknya waspada.

Ibu Rara hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya. Cowok itu duduk di samping Rara. Rara tak mau pergi karena yang seharusnya pergi itu cowok itu bukannya Rara. Di tersenyum melihat tingkah Rara lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

Mengelurkan sebuah kotak yang tidak terlalu tebal mirip sebuah buku. Dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu lalu diberikan pada Rara.

“Ini, bukalah!” katanya diiringi senyum.

Rara masih kesal dengan dia dan memutuskan untuk membuka. Matanya langsung bersinar melihat isinya.

“Bukuku! In bukuku!” teriaknya dalam hati senang. Tersenyum manis akhirnya bukunya kembali ke genggamannya.

“Terima kasih kak!” ucapnya senang.

Cowok itu lalu mengacak-acak rambut Rara dan tersenyum.

“Lalu nama kakak siapa?” tanyanya.

“Yaelah. Belum tahu namaku?!” kecewa cowok itu. “Aduh gimana sih adikku ini!” merasa kesal.

“Rara, dia itu kakak sepupumu. Kak Udin.” Sambung ibunya.

“YA ampun! Kakak toh?” serunya keras.

“Cepat sekali melupakanku!” cemberutnya.

“Habisnya kakak sudah ebrubah. Dulu kan banyak kacangnya di pipi!”

“Hah, kacang? Aduh-” mengacak-acak rambut Rara lebih ganas.

Segera Rara merapikan rambutnya.

“Tapi sekarang lebih ganteng kan?” katanya lagi.

“Ganteng sih ganteng tapi kalau ngelihat orang seperti itu, yang ada malah lari semua!” selorohnya.

“Masa sih?”

“Oh iya. Kak udan Bu kemarin lihat aku kayak mau nelan aku hidup-hidup!” cerita Rara ke ibunya. Dengan sedikit melebih-lebihkan.

Udin dan ibunya hanya tertawa. Suasana jadi rame.

“Aduh, sepupu dan komikku!” batin Rara.


Jombang, 19 September 2020

(Cerita ini juga aku publish di blogku yang lain)

Selasa, 28 Juli 2020

Surat Untuk Kau yang Menyia-nyiakanku

Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kau tidak bisa melupakanku. Kau yang mengatakannya bahwa kita hanya berteman, tidak lebih, sehingga kau pun memutuskan untuk bersamanya. Namun pada akhirnya kisahmu usai jauh sebelum bayanganmu, yang kau impikan, terjadi. Ternyata ia tidak seperti yang kau bayangkan.

Apa kau tahu betapa keras usahaku untuk menolak perasaan yang sedang tumbuh berkembang ketika tiba-tiba saja kau memutuskan komunikasi kita? Aku menghargai keinginanmu jadi aku menahan diri, sekuat tenaga, agar tidak menghubungimu. Namun ketika rasa itu tak dapat ku tolerir lagi, puncak usahaku hanyalah memandangmu dari kejauhan dan ‘memata-matai’ akun media sosialmu, hanya untuk melegakan dahaga atau keingintahuanku atas apa yang sedang kau lakukan, yang kau rasakan.

Aku merasa sedih, kecewa, hancur, tentu saja. Namun aku akan jadi lebih sedih, lebih kecewa, lebih hancur lagi jika aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Kau milik orang lain, aku mengerti itu, tapi... Kau pasti tahu bagaimana rasanya, sekarang, karena kau sedang dalam keadaan yang sama sepertiku waktu itu.

Tidak mengenakkan bukan?

Jangan katakan apa-apa lagi karena aku sudah sangat akrab dengan perasaan itu. Aku sudah kenyang dengan rasa hambar, kecewa, dan sedih. Aku sudah pernah menjalani waktu-waktu itu hingga tak jarang aku hampir terperosok ke dalam jurang keputus-asaan. Bisa saja aku melawanmu, mengacaukan ketentramanmu, akan tetapi aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri. Aku juga tidak ingin mempermalukan orang yang melahirkanku dan yang membesarkanku jadi, aku manahan diri.

Jangan dikira mudah bagiku untuk sampai di sini. Aku sempat tersesat beberapa kali, mencari pelarian darimu, melupakan perasaan itu, membuangnya.

Usahaku berbuah. Kesabaranku menuntunku padanya. Aku beruntung bertemu dengannya ketika kesulitan itu semakin menjadi. Bagaimana mungkin aku menolaknya yang mempedulikanku padahal aku sudah berupa puing?

Ia membantuku menjadi utuh karena itu ia menjadi tujuanku. Ia hidupku. Dan, sekarang, kau pun harus begitu, menemukan seseorang yang akan membantumu untuk mengumpulkan puing-puingmu yang telah berserakan.


RIP Chester Bennington

Sebenarnya ini tulisan beberapa tahun yang lalu. Tapi aku ingin menyampaikan bahwa inilah apa yang kurasakan saat kepergiannya.



Aku tidak tahu jika ternyata Chester Bennington memiliki masalah dengan dunia sebegitunya hingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Ku kira lagu-lagunya memang ditujukan untuk menunjukkan caranya memandang dunia dari segi yang lain. Bukan dari kesenangannya tapi dari balik kekusutannya. Dunia yang berbahaya dan sulit. Sulit tapi tetap harus berjuang. Ia menyampaikan pesannya, motivasi untuk terus melaju meski dunia “Heavy”.

Berita kematiannya jelas mengejutkanku. Sekitar seminggu yang lalu. Sekarang tanggal 30 Juli 2017 jadi kira-kira tanggal 23-an. Aku benar-benar tidak menyangka jika ia memutuskan untuk mati dengan cara seperti itu. Aku memang i’ll fill dengan orang bertato tapi aku mengaguminya yang bisa nyanyi. Aku suka suaranya dan lagu-lagunya hingga tak peduli lagi dengan tato-tato yang menutupi kulit. Tapi... Tetap saja, berita ini membuatku kecewa. Bagaimana bisa ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Bahkan ia meninggalkan anak-anaknya. Apakah ia tidak memikirkan bagaimana anak-anaknya nanti, isterinya, sepeninggalnya? Apakah sudah tidak ada cara lain hingga ia melakukan itu? Bahkan di rumahnya sendiri.

Aku kasihan pada keluarganya. Dan, dirinya yang cepat menyerah seperti itu. Tidak ada yang tidak mungkin. Dia “Not Alone”. Dia adalah pengajar yang memberitahukan tentang “Future”. Ia bahkan mengingatkan kita tentang “The Mesenger” yang selalu bersama kita. Ia juga menunjukkan pada kita bahwa dunia berwarna-warni (“Iridescent”). Dia mengakhiri semuanya seolah “All for Nothing”. Apa maksudnya itu? Ia breaking me down. Padahal aku berharap bahwa ia akan terus berkarya “Until It’s Gone”, “In The End”, berjuang bersama melawan meskipun harus menghadapi “Battle Symphony”.

Aku marah karena ia begitu cepatnya “Given Up”. Seharusnya “We Use The Pain” supaya bisa lebih kuat menghadapi dunia ini yang semakin sulit. Aku tak percaya bahwa ia mengucapkan “Salam Goodbye” dengan sikap seolah-olah “Nobody Can Save Me”. Ia bahkan mengatakan “Sorry For Now” yang jelas-jelas tidak akan dimaafkan. Ia sudah mengecewakan banyak orang. Kenapa ia tidak meminta bantuan orang lain jika ia memiliki masalah? Padahal masih ada “New Divide”.


Sedikit curahan dari fans di celah dunia.

Kamis, 23 Juli 2020

CERPEN : Ritual

Ritual

Al seorang gadis kecil yang baru berumur 7 tahun dan belum mengerti apa-apa. Ia hanya tahu bermain namun hari ini ia dilarang bermain karena ia harus pergi ke suatu tempat bersama pamannya. Ia sudah tidak memiliki ibu dan hanya tinggal ayah yang sakit-sakitan. Ia pun digandeng ke suatu acara yang tidak dimengertinya namun ia diharuskan untuk ikut.

“Nah, Al, tunggu disini sebentar dan jangan kemana-mana! Kamu mengerti, ‘kan?” katanya pada Al.

Al menatapnya sambil menganggukkan kepala.

“Kamu tidak akan kemana-mana sampai Paman kembali! Kamu mengerti?” tegasnya.

Al mengangguk lebih dalam lagi dan bersuara. “Ya, aku mengerti!”

Setelah Al mengatakan itu, Paman melangkah ke tengah kerumunan dan meninggalkan Al. Al melakukan apa yang disuruh oleh pamannya dan tetap diam di tempat. Ia mengawasi keramaian itu dengan pandangan tak mengertinya. Ia melihat ada banyak orang dewasa dan berseliweran.

Namun tak berselang lama mata Al menangkap sosok seseorang yang juga bersama anak kecil sepertinya. Al sempat berniat untuk menghampirinya karena anak itu adalah temannya tapi ia ingat dengan permintaan pamannya sehingga ia tidak jadi melakukannya. Ia pun tetap di tempatnya.

Tak lama kemudian pamannya kembali. Ia terlihat lebih serius dari yang pertama Al lihat.

“Ayo, Al!” ucap paman. Ia pun menggandeng tangan Al dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Paman, tempat apa ini? Apa sedang ada perayaan?” tanyanya polos. Ia menatap pada pamannya.

Paman tak langsung menjawab sehingga membuat Al mesti menunggu lebih lama untuk mendengar jawabannya. “Ya, disini sedang ada perayaan.”

“Kenapa ayah tidak ikut?!” tanyanya lagi.

“Kan ayah sedang sakit!”

“Oh, iya.” Kata Al kemudian. “Aku ingin ayah cepat sembuh biar bisa pergi ke perayaan bersama kita!” lanjut Al.

Al mendengar paman mendesah sebelum berbicara. “Ya. Ku harap juga begitu!”

Setelah berjalan beberapa lama akhirnya paman berhenti sehingga Al otomatis juga berhenti.

Al melihat sebuah gubuk tua, berwarna gelap, dan Al merasa takut untuk melihatnya. Ia tidak memiliki keinginan untuk masuk ke dalam sana. Namun, paman berpendapat lain.

“Ayo, Al! Titi sudah menunggumu!” ajak paman. Al terkejut tapi tangannya sudah lebih dahulu ditarik oleh paman.

“Rumah siapa paman?” tanya Al menahan ketakutannya. Di dalama gubuk itu tidak ada banyak cahaya. Remang-remang.

“Tidak perlu takut, Al. Kita hanya disini sebentar. Dia hanya ingin melihat dirimu!” jelas paman.

Al belum begitu mengerti jadi ia langsung diam setelah mendengar jawaban itu.

Di dalam, kedatangan mereka telah ditunggu oleh seorang wanita tua, nenek-nenek berambut putih dan abu-abu panjang. Rambutnya agak berantakan dan memiliki kalung dari taring harimau. Pakaiannya serba hitam dan wajahnya juga demikian. Namun matanya terlihat hitam dengan balutan putih. Kaki Al terasa kaku ketika melihatnya namun karena paman yang terus melangkah membuat Al jadi ikutan terseret. Paman baru berhenti setelah ia berada di depan wanita tua itu. Al pun menggandeng tangan paman dengan erat.

“Titi, dia sudah ada disini!” kata paman padanya.

Al memandangnya takut. Al masih menggandeng tangan paman dengan erat namun karena melihat paman yang tidak takut Al jadi lebih berani dari sebelumnya. Ia berpikiran kalau nenek-nenek itu tidak jahat meski terlihat menyeramkan. Gandengan tangannya pun agak mengendur.

Wanita itu terus memandang Al hingga membuatnya bergidik ngeri. “Dekatkan dia padaku!” kata wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Al.

“Ayo, Al!” kata paman pada Al. Paman melepaskan tangan Al.

Al tidak menjawab pun bergerak tapi pamanlah yang mendorongnya mendekat hingga ia terduduk tepat di depan wanita tua itu. Al memandang nenek itu takut-takut.

Wanita tua itu mengamati Al selama beberapa waktu sebelum jari-jari berkuku panjangnya menyentuh wajah Al dan membelainya. Al terkesiap tapi ia tidak menepis ataupun mundur. Ia malah terus menatap ke mata wanita itu meski wanita itu tidak sedang menatap padanya. Dan setelah cukup melihat wajah Al tangan wanita itu ganti menyentuh tangan Al hingga membelai telapak tangannya. Al bergidik karena sentuhannya di telapak tangannya. Ia merasa geli.

“Ini bagus!” ucap wanita tua senang. Al melihat bahwa gigi nenek itu hitam-hitam. Ia tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.

“Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya semenjak 175 tahun yang lalu. Aku tidak mungkin percaya jika tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku sangat yakin kalau dia adalah pilihan yang tepat. Dia akan menjadi orang yang mashur dan tidak akan mengecewakan kita. Ia kuat!” katanya pada paman.

“Terima kasih, Titi!” sahut paman. Namun Al mendengar nada cemas disuaranya.

“Jagalah ia baik-baik dan bawa kembali setelah ia berusia 15 tahun!”

“Baik, Titi!”

Setelah mengatakan itu, nenek itu melepaskan tangan Al dan paman langsung mendekati Al.

“Kita pulang!” katanya pada Al.

Al pulang setelahnya dan tidak menanyakan apa-apa. Tidak ada yang dimengertinya jadi ia tidak tahu harus menanyakan apa. Ia juga tidak mengerti kenapa paman membawanya ke tempat itu dan paman tidak pernah menceritakan alasannya. Hingga waktu berlalu Al tidak pernah mengetahuinya.

Beberapa tahun berlalu dan ayah Al yang sakit-sakitan akhirnya memutuskan untuk menyerah dengan penyakitnya. Ia meninggal ketika Al baru berusia 11 tahun, tepat 4 tahun setelah Al dibawa menemui nenek-nenek itu. Ia pun mengikuti paman yang pindah ke tempat tinggal yang baru.

Al sudah melupakan kejadian hari itu dan menyibukkan dirinya dengan bekerja. Al membantu paman dan bibinya untuk mengurus rumah dan kebun. Ia adalah gadis yang penurut dan baik sehingga ia tidak menyusahkan pamannya. Ia tumbuh dengan baik meski tingga di tempat terpencil. Ia tidak pernah mengerti kenapa paman memilih tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Hingga tanpa terasa Al sudah berusia 15 tahun.

“Al!” panggil paman suatu hari.

Al yang tengah mencabuti rumput di kebun sayur pun otomatis bangkit dan menghampiri pamannya. “Ada apa paman? Ada yang paman perlukan?” tanyanya.

“Oh, tidak. Aku hanya ingin supaya kamu bersiap-siap. Kita akan pergi!”

“Pergi?” tanya Al tak yakin. Ia tidak pernah pergi dengan paman sebelumnya.

“Ya. Cepatlah mandi dan gunakan pakaian terbaikmu. Paman akan menunggumu di kereta!”

“Baik paman!”

Al pun langsung bersiap-siap tanpa bertanya lebih jauh lagi. Ia dengan senang hati membantu pamannya karena selama ini pamannyalah yang selalu merawatnya. Kalau tidak ada paman mungkin ia sudah menjadi gelandangan sejak kecil karena ketika kecil ayahnya sudah tidak mampu bekerja dan sakit-sakitan sehingga ia sering dijenguk olehnya dan diberikan makanan.

Tak membutuhkan waktu lama dan Al sudah siap. Ia pun menghampiri pamannya yang sedang menyisiri kudanya.

“Paman!” panggilnya.

“Sudah siap?” Al mengangguk. “Kalau begitu, kita berangkat sekarang!”

Paman menyiapkan keretanya dan naik ke bangku kemudi sementara Al duduk di dalam kereta. Dalam pikiran Al sempat terlintas bahwa sikap paman berbeda hari ini karena paman biasanya selalu membawa kusir, tidak dikendarai sendiri.

Sepanjang perjalanan Al tidak mengatakan apapun, begitu pun paman. Al lebih memilih untuk menikmati pemandangan di sekitar yang tak pernah dilihatnya. Ia tidak pernah keluar sebelumnya jadi ia akan menikmati pemandangan hari ini. Ia tidak tahu kapan ia akan melihat pemandangan itu lagi.

Al terbangun ketika menyadari bahwa kereta telah berhenti. Ia mengucek matanya sebentar dan pintu terbuka. Paman memintanya untuk turun.

“Ini dimana paman?” tanya Al sambil melangkah turun. Al terkejut melihat hari sudah gelap.

“Sudah malam, kita akan menginap dulu!” jelas paman.

Al mengangguk mengerti.

“Kalian sudah datang!” ucap seorang wanita setengah baya setelah membukakan pintu.

“Ya. Perjalanan yang melelahkan!” jawab paman.

Al tak mengerti tapi sikap paman dan wanita itu terlihat akrab. Namun Al tidak pernah meliht wanita itu sebelumnya.

“Silahkan masuk!” katanya ramah pada Al.

Al pun menggangguk kikuk dan melangkah masuk.

“Aku akan mengantarkan kalian ke kamar untuk istirahat. Aku tahu kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh dan juga lapar. Aku akan menyiapkan makanan selagi kalian berisirahat dan membersihkan diri!”

Al dan paman mendapatkan kamar yang berbeda. Al tidak tahu bagaiman kamar paman namun kamarnya bagus, lebih bagus daripada kamar yang pernah dimilikinya. Lalu tepat setelah ia selesai mandi ia sudah dipanggil untuk makan.

Al sempat ragu untuk makan tapi ia kelaparan. Selain itu, si pemilik rumah juga menghidangkan banyak makanan di meja dan enak-enak. Al tidak bisa menolak aroma sedap dari makanan itu. Mengabaikan pamannya, ia pun makan dengan lahab dan banyak. Ia belum pernah makan banyak sebelum malam ini.

Selesai makan, Al langsung kembali ke kamar. Ia tidak biasa bercakap-cakap dengan keluarga. Sebelum itu, ia berniat untuk membantu tuan rumah untuk mencuci piring namun ditolaknya sehingga Al memutuskan untuk berada di kamar saja.

Keesokannya Al bangun dan ia terlihat lebih segar dari semalam. Ia belum pernah melakukan perjalanan sepanjang itu meski ia hanya duduk di dalam kereta. Ia juga tak mengerti kenapa ia dan paman berada disini. Ia berniat untuk menanyakannya pada paman pagi ini, tentang apa yang akan dilakukannya, namun ia belum bertemu dengan paman setelah semalam. Ia bahkan sarapan sendirian tanpa ada paman. Ia tidak tahu paman kemana. Paman pergi sebelum ia bangun.

Hampir tengah hari ketika paman muncul dan mengetuk pintu kamar Al.

“Al, keluarlah! Kita akan pergi!” panggilnya.

Al membuka pintu dan melihat paman yang sudah rapi. “Mau kemana paman?”

“Bersiaplah! Aku akan menunggumu di depan!” kata paman tanpa basa-basi.

Al tak mendapatkan jawabannya namun ia tetap melakukannya. Ia segera bersiap dan menemui paman ke depan.

“Al, sebentar lagi kau akan bertemu dengan beberapa orang.” kata paman setelah Al duduk di samping paman dan kereta sudah bergulir. Pada saat ini ada seorang kusir yang mengoperasikan kereta. “Mereka... orang baik jadi kamu harus bersikap baik terhadap mereka. Lakukan apa yang mereka minta dan jangan bertanya. Kamu hanya menuruti keinginan mereka. Mereka ingin melakukan yang terbaik untukmu Al dan kamu adalah gadis yang istimewa. Mereka tidak akan menyakitimu!” jelas paman.

Al seketika mengurungkan niatnya untuk bertanya padahal ia memiliki banyak pertanyaan tentang hari ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti tapi ia percaya dengan paman. Ia pun yakin kalau apa yang dikatakan oleh paman adalah benar. Selama ini paman selalu baik padanya dan selalu bertindak sebagai orang tuanya. Akhirnya Al pun mengangguk.

Kereta berhenti dan otomatis Al keluar bersama paman. Paman tidak mengatakan apa-apa lagi. Al pun mengikuti kemana paman pergi hingga membawanya ke sebuah gubuk yang terlihat tidak asing bagi Al. Gubuk tua, berwarna gelap dan seram. Melihat paman yang melangkah masuk membuat Al terpaksa mengikutinya. Al mesti berhati-hati ketika berjalan karena gelap.

Al melihat paman berhenti sehingga Al pun melangkah lebih cepat dan berhenti di dekat paman. Al mengamati kesekitar, berusaha untuk mengingat-ingat tempat itu. Tapi Al tidak bisa mengingatnnya dimana.

“Dia sudah disini, Titi!” ucapan paman membuat Al menoleh. Ia merasa familiar dengan ini.

Tak berselang lama seorang wanita tua, berambut putih panjang menghampiri mereka berdua. Ia melihat ke paman sebentar sebelum memandang kepada Al lama.

“Dia sudah besar dan... cantik. Dia gadis yang cantik!” kata wanita tua itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Al. Al mengamati nenek itu penasaran.

“Ya, Titi.” Jawab paman pendek.

“Kau membesarkannya dengan baik!” pujinya.

“Kalau begitu, biar dia diurus oleh Kola!” katanya pada paman.

Tak berselang lama beberapa orang wanita muda, tepatnya gadis, yang usianya lebih tua beberapa tahun dari Al muncul dan membawa Al ke suatu tempat. Al sempat ragu dan ia memandang paman mencari dukungan. Paman menganggukkan kepalanya sehingga Al memutuskan untuk ikut.

Al dibawa ke sebuah kolam dan ia dipaksa untuk membuka pakaiannya. Ia menolak namun gadis-gadis itu dengan cepat melepas paksa pakaiannya hingga ia telanjang bulat. Wajah Al bersemu merah dan ia berusaha untuk menutupi tubuhnya dengan lengan sebisanya.

“Masuklah ke dalam air!” perintah salah seorang.

Dengan sigap Al melakukannya karena ia ingin cepat-cepat menyembunyikan diri. Ia cemas karena ada yang melihatnya telanjang dan bahkan ada yang menungguinya ketika mandi.

Gadis-gadis itu tanpa ragu menyabuni tubuh Al dan menggosoknya. Al sempat berontak tapi ia gagal. Ia kalah jumlah dan ia harus menyerah dengan “serangan” gadis-gadis itu. Tidak pernah sebelumnya ada yang menyentuh tubuhnya selain dirinya sendiri.

Selesai mandi, tubuh Al langsung dibalut dengan kain putih yang sudah mereka siapkan dan dibawa ke sebuah ruangan. Ia didandani dan diberi pakaian yang bagus. Terlintas dipikiran Al untuk bertanya-tanya tapi ia teringat dengan pesan paman padanya untuk tidak menanyakan apapun sehingga ia hanya diam. Tapi ia juga penasaran dimana paman. Apakah paman juga mengalami seperti yang dialaminya, dimandikan dan diberikan pakaian yang bagus, tanyanya ingin tahu.

Al jadi terlihat cantik dengan pakaian berwarna putih itu. Ia tidak pernah berdandan sebelumnya sehingga ia terkejut melihat pantulan dirinya di cermin. Belum puas ia mengagumi dirinya ia sudah dibawa keluar dan ia langsung dihadapkan pada nenek-nenek yang beberapa waktu lalu ditemuinya.

“Baiklah, semuanya sudah siap jadi kita mulai ritualnya!” ucap wanita tua itu.

Al mengamati sekitar dan ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang ada di sekelilingnya. Terlalu gelap dan hanya pendar api yang ada di depannya yang menerangi. Ia berada di sebuah tempat terbuka tapi hari benar-benar sudah malam. Ia tidak menyangka jika “mandi dan ganti bajunya” tadi memakan waktu selama itu.

Melihat ke depan, Al mendapati bahwa nenek itu sedang menggumamkan sesuatu yang tidak dimengertinya. Ia pun teringat dengan ucapan nenek itu sebelum mulai menggumamkan sesuatu itu bahwa dia membicarakan tentang ritual. Al jadi penasaran, ritual apa yang sedang dilakukannya.

Setelah cukup lama hingga membuatnya bosan, akhirnya nenek itu sudah tidak menggumamkan mantra-mantra. Ia terdiam sebentar sebelum berbalik dan menghadap pada Al.

“Minumlah ini!” katanya pada Al. Ia mengulurkan sebuah wadah yang berisi air berwarna merah.

Al ragu untuk menerima namun wanita itu terus menatapnya sehingga ia mau menerimanya. Al meminumnya pelan untuk menghindari “kejutan” dari rasa minuman itu. Namun begitu minuman itu menyentuh lidahnya, Al merasa lain, berbeda dari yang ia kira. Air merah itu ternyata manis, berbeda dari jenis minuman yang pernah diminumnya sehingga ia pun meminumnya dengan cepat.

“Bagus!” puji nenek setelah Al menghabiskan minumannya. Ia pun mengambil wadah itu dari tangan Al dan melemparkannya ke dalam api. Api pun berkilat ketika benda itu masuk ke baranya.

Nenek itu mengucapkan beberapa mantra lagi sebelum menyuruh gadis-gadis tadi untuk membawa Al ke sebuah ruangan yang digunakannya untuk berganti pakaian beberapa waktu yang lalu. Namun ia heran melihat ada yang berbeda dengan tempat itu. Ada sebuah tikar yang dihampar di lantai dan bara api, juga besi-besi. Belum cukup Al bertanya-tanya soal itu nenek tadi masuk ke dalam ruangan. Al bahkan tidak sadar kalau gadis-gadis tadi sudah keluar.

“Al, duduklah disini! Punggungi aku!” ia memberikan isyarat agar Al duduk di depannya, di atas tikar.

Al terdiam dan menunggu apa yang akan dilakukan nenek itu, juga dirinya. Hingga kemudian Al merasakan kulit dingin menyentuh punggungnya dan tiba-tiba saja menarik pakaiannya turun.

Al terpekik dan otomatis menahan.

“Tidak apa-apa, Al!” katanya menengakan. Ia menariknya turun lagi.

Kulit Al yang terbuka meremang mengantisipasi sentuhan yang tak diketahuinya.

“Apapun yang terjadi diam, Al! Dan yang terpenting, jangan berteriak ataupun melawan karena hal itu hanya akan lebih menyakitimu saja. Taukah kau, Al, bahwa kau istimewa. Kau pilihan dari banyak pilihan. Berbanggalah dengan itu!” hiburnya. Mendengar ucapannya itu Al jadi merasa lebih tenang.

“Gigitlah ini!” katanya sambil mengulurkan sebuah gulungan kain.

Al menerima dan memandangnya beberapa saat. Ia tidak boleh bertanya jadi ia melakukan seperti yang dikatakan.

Namun selain mendengar suara wanita itu Al juga mendengar suara lain. Ia mendengar gesekan besi dan derak bara api. Kemudian ketika suasana berubah hening, Al dikejutkan dengan sengatan panas di pungungnya dan ia menggigit gulungan kain itu erat.

“Tenanglah Al!” kata wanita itu.

Tubuh Al terguncang karenanya dan ia merasa tidak nyaman di tempatnya.

“Tetap diam Al!” suara wanita itu lebih tegas. Ia menekan bahu Al agar tetap diam.

Al kesakitan dan ia berniat berontak tapi ia tak diizinkan untuk pergi. Seiring dengan sengatan yang berikutnya, keinganan Al untuk pergi begitu kuat namun kakinya tak merespon, begitu pula dengan tubuhnya. Meski begitu ia tetap bisa merasakan panasnya bara api yang membakar kulitnya.

Tangal Al menggenggam ujung bajunya dengan erat dan gigitan kain di mulutnya menegang setiap kali bara itu membakar kulitnya. Keringatnya bercucuran dan ia benar-benar kesakitan. Ia tersiksa. Waktu yang bergulir lama turut menyiksanya. Ia tidak tahu berapa lama siksaan ini akan berlangsung.

“Nah, sekarang sudah selesai!” ucap nenek itu lega setelah beberapa waktu penyiksaan.

Al yang mendengarnya pun ikutan lega. Namun punggungnya masih terasa terbakar meski nenek itu sudah menghentikan aktifitasnya untuk membakar punggungnya. Ia merasa kesakitan luar biasa dan ia sulit untuk menjelaskan rasa sakitnya. Tubuhnya basah kuyup dan lemas. Ia sama sekali tak mengerti kenapa ia mesti melakukan hal ini. Ia sungguh ingin menanyakannnya pada seseorang namun sakit dipunggung menahannya dan tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri karena tidak tahan menahan sakit punggung yang terbakar.


CERPEN : Pelayan Vampir

Pelayan Vampir

Part 1

Seperti biasa aku pulang larut tapi entah kenapa malam ini udara terasa berbeda. Bahkan di setiap langkahku seperti ada yang mengawasi. Aku diliputi rasa cemas dan hal ini sangat mengganggu. Aku tidak biasa seperti ini tapi hari ini aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Ku putuskan untuk segera pulang.

Aku terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja muncul seseorang di tikungan. Aku sempat ragu namun ku putuskan untuk meneruskan langkah. Lalu, tiba-tiba saja ada yang menerjangku dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di tempat yang berbeda.

Aku bangun dan melihat ke sekeliling. Hari sangat gelap jadi aku tidak bisa melihat banyak tapi, aku sangat yakin kalau sekarang aku... berada di atap sebuah gedung.

“Apa?! Dimana ini!?” ucapku begitu menemukan pemikiran ini. Di bawa oleh angin aku mendengar tawa seseorang. “Siapa itu?” Namun aku tidak menemukan apapun.

“Aku akan bermain-main sebentar denganmu sebelum menuju ke acara puncak.”

Aku pun terkesiap dan mencari ke sumber suara.

Aku melihat siluet seseorang dalam kegelapan. Ia tak bergerak selama beberapa saat tapi aku sesekali mendengar desah nafasnya yang berat. Tak lama kemudian ia bergerak dan melangkah mendekat. Sinar redup bulan memperlihatkan wajahnya.

“Jangan terlalu lama, Oke!” sahut yang lain.

Aku kebingungan dan mencari sumber suara yang lain itu. “Apa yang...” ucapanku terpotong karena terkejut. Dalam sedetik ia sudah berada di depanku dan ia berusaha untuk mencekikku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku di sela nafasku. Ia menyeringai. Aku melihat matanya berkilat meski wajahnya tidak jelas.

“Aku ingin memberikan mereka hadiah kecil karena telah melakukan hal itu padaku. Mereka sudah mengambil milikku yang berharga maka mereka pun demikian.”

Aku berusaha untuk melepaskan tangannya tapi ia terlalu kuat. Tangannya memegang leherku dengan sangat erat tapi aku masih bisa bernafas sejauh ini. Namun semakin lama cengkramannya bertambah erat dan hal itu membuatku panik serta kesulitan bernafas. Tangannya juga terasa dingin dan keras.

“Arg..”

Seringainya berubah menjadi tawa dan tiba-tiba saja tubuhku melayang dan menghantam lantai.

“Aw...” keluhku sambil berusaha bangkit.

“Sangat bagus.” Komentar seseorang yang tak terlihat.

“Aku belum menunjukkan pertunjukkan yang lain.” sahut orang itu meremehkan.

“Baiklah. Terserah kau saja. Tapi, jangan sampai kelewatan karena nanti kita tidak akan mendapatkan apa-apa.” Suaranya dingin.

“Hemmm... Kau melihat saja.”

Aku berusaha bangkit sambil memprotes. “Apa yang telah kau lakukan?” protesku di sela batuk. Tubuhku jadi terasa sakit karena itu.

Aku belum sempat berdiri dan ia sudah berada di depanku lagi dan merenggutku. Tak lama kemudian ia kembali melemparkanku hingga beberapa kali. Tubuhku terasa nyeri di beberapa bagian dan aku bisa mendengar suara patah di dalam tubuhku ketika aku membentur dinding.

“Apa kau menikmatinya?” gumamnya di dekatku. Aku berusaha untuk duduk dan tubuhku jadi terasa lebih sakit.

“Kau... apa-apaan? APA YANG KAU LAKUKAN?” teriakku marah. Dan karena ini tubuhku jadi terasa lebih sakit lagi. “Uhuk, uhuk.” Aku terbatuk.

Aku mendengar tawanya dan ia sudah mendekat. “Kau kesal?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

“Aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini padaku. Kau...” kalimatku terhenti karena tiba-tiba saja ia sudah berada sangat dekat denganku sehingga aku bisa mencium aroma.. aneh. Aromanya lumayan menyenangkan meski aneh. Namun seringai maupun ekspresinya terlihat menakutkan.

“Kau memang tidak salah apa-apa tapi... gara-gara pendahulumu maka kau harus bertanggungjawab.”

Aku belum sempat menyahut dan ia sudah lebih dahulu melempar tubuhku ke atas dan tiba-tiba saja ia mendorongku ke bawah tanpa melepaskan telapak tangannya dari dadaku.

Aku membentur lantai keras dan sama sekali tak bergerak di tempat karena tekanan telapak tangannya. Sekali lagi aku mendengar suara patah di tubuhku dan aku terbatuk. Cairan hangat terasa mengalir di bibirku.

Ia menyeringai.

“Kau berdarah.” Ucapnya senang. Ia tertawa melihatku.

“Darahnya keluar banyak. Sayang sekali terbuang sia-sia.” Orang yang tak terlihat itu mengatakan tidak setuju.

Tubuhku terasa remuk. Aku tidak bisa bergerak dan sakit. Bahkan dadaku terasa ada yang menindihnya berat. Itu benar, tangannya.

“Jangan mati dulu, Ok? Nanti tidak akan jadi menyenangkan.”

Aku terkesiap dan ia sekali lagi melemparkanku ke dinding dan cairan hangat lain mengalir di lengan dan kaki kananku.

Aku berusaha untuk duduk tapi tubuhku terasa luar biasa sakit. Aku meraba-raba apa yang mengganjal lenganku dan mencabutnya. Setelah tercabut terasa lebih baik meski perih dan darah mengalir. Aku sempat terkejut melihat darah tapi aku lebih merasa terganggu dengan rasa mengganjal lain yang ada di kaki. Aku pun setengah bangkit dan menarik keluar pecahan kaca yang menembus pahaku dengan tangan bergetar.

“Aw...” rintihku. Ini terlalu tiba-tiba, kataku dalam hati. Apa aku sedang bermimpi?

Pertanyaanku belum terjawab tapi ia sudah kembali dan berdiri menjulang di depanku. Ia menyeringai dan dengan cepat sudah menunduk dan menekan kakiku.

“Apa itu menyenangkan?” tanyanya.

“Apa yang... auh...” teriakku tak tertahan. Aku merintih dan berteriak kesakitan karena ia menekan kuat pada lukaku.

Ia menyeringai dan menatapku tajam sementara aku merintih kesakitan dan tak lama kemudian aku mendengar suara. Klak. Tulangku patah lagi.

“Aaa.....” teriakku. Nafasku tersengal dan sakit. Rasanya aku sudah mau mati.

“Kau sudah pincang.” Oloknya. “Sekarang yang satunya!”

Aku terkesiap namun tiba-tiba saja seseorang datang menghentikannya.

“Kau bersenang-senang sendiri?” tuduhnya.

Ia tersenyum dan menyahut. “Aku baru akan memulainya.”

“Kalau begitu, jangan di tunda lagi.” Sahut yang lain.

Tiba-tiba saja, seorang sudah berada di sisi kiri ku sementara ia berada di sisi kananku. Aku belum mencerna kejadiannya dan tiba-tiba saja ada yang menusuk kulit lenganku dengan tajam dan aku tersentak. Tak berselang lama, lenganku yang kiri juga demikian. Aku terkejut dan nafasku jadi semakin sakit. Aku pun menggeliat kesakitan.

Aku berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi tapi ini membingungkan. Pandanganku kabur namun suara desiran di kedua lenganku terasa sangat nyata dan nafasku semakin lama semakin tak menentu. Aku tidak lagi merasakan sakit di tubuh atau kakiku akan tetapi aku terfokus pada kedua lenganku. Tubuhku menggeliat tanpa bisa ku cegah. Pandanganku pun sebentar jelas sebentar buram.

Aku tidak tahu waktu berlalu berapa lama ketika aku samar-samar melihat wajah itu. Wajah terkejut dan... ngeri. Tidak menakutkan seperti yang tadi. Ia sepertinya orang yang berbeda.

“Oh, tidak. Ia kehilangan banyak darah.” Ucap sebuah suara tapi aku masih terfokus pada wajah itu yang juga sedang menatapku. Suasananya tenang namun ada sebuah suara monoton yang terus-terusan mengganggu. Tak lama kemudian baru kusadari bahwa itu adalah suara nafasku sendiri.

Aku menatapnya dengan ketenangan yang sangat mengherankan meski desahan nafasku keras terdengar hingga tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkanku.

“Arg...” tubuhku terasa bergetar hebat dan panas terbakar.

“Oh, tidak. Kita harus segera menyelamatkannya. Tulang rusuknya juga patah.” Sambung suara tak kasat mata itu lagi.

“Oh...” teriak suara itu lebih keras dan tubuhku bergetar lebih keras lagi.

“Kevin, aku melihatnya.” Ucap wajah itu tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Ia... semakin mendekat.”

“Apa?” sahut orang yang bernama Kevin. Aku tidak melihatnya hanya suaranya terdengar sama. “Bagaimana bisa?”

“Arg.” Dan ternyata itu adalah suaraku sendiri. “Pa...nas.... Arg...” aku menggeliat di bawah tekanannya.

“Kevin!” teriaknya ngeri. Ia sedikit pun tidak memalingkan pandangannya dariku.

“Jangan hanya diam, cepat lakukan sesuatu!”

Aku masih menatapnya dan ia bergeming.

“Kita harus mencegah perubahannya. Itu perjanjiannya. Ada dua luka. Cepat lakukan!”

“Tidak! Darahnya begitu manis.” Suaranya cemas. Ia membentuk garis keras di wajahnya. Pandanganku semakin lama semakin mengabur.

“Kita tidak bisa menunda lagi.” Desak yang pertama.

“Bagaimana jika aku tidak bisa berhenti?” cemas.

“Kau bisa. Cepat! Aku akan melakukan pada yang satunya.”

Dan tiba-tiba aliran di lenganku kembali terjadi dan tidak lama kemudian yang kanan menyusul.

Rasanya membingungkan namun suara dengung di telinga sangat jelas terdengar. Selain itu, kepalaku juga terasa berdenyut, seperti ditusuk. Nafasku terasa lebih ringan meski dadaku tetap terasa sakit setiap kali udara mengalir masuk ke dalam jantung. Dan sebelum pandanganku benar-benar buram aku sempat melihat pandangan bersalah seseorang dengan warna merah di bibirnya.


 

Part 2

Aku bermimpi aneh. Bermacam-macam kejadian dalam satu waktu. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah aku memimpikan kastil-kastil dengan wajah-wajah pucat dan kebudayaan kunonya. Aku bahkan melihat eyang buyutku di sana diantara wajah-wajah asing itu.

Aku bersama ayahku dikenalkan pada beberapa di antara orang berwajah pucat itu. Namun ada satu orang yang menolak dan bersikap angkuh. Ia bahkan tidak menuruti orang yang lebih tua dan mirip ayahnya itu. Namun eyang buyutku hanya tersenyum dan ayahku menarikku mendekat. Meski begitu aku merasa penasaran dengannya dan menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu hingga ia mau menengok dan melihat padaku.

Ku pikir aku akan baik-baik saja ketika melihatnya namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku malah melihat wajah penuh penyesalan. Ia memandangku dengan rasa bersalah yang tidak ku mengerti.

Aku tersentak dan seketika mataku terbuka.

Aku menghela nafas keras dan mencoba mengusir rasa serak di tenggorakan namun yang terjadi malah dadaku terasa sakit. Aku melihat ke sekitar dan terkejut mendapati keberadaanku. Bahkan selang mengular dari hidungku. Aku melihat ke sekeliling dan menemukan seseorang bersandar di dekat cendela. Ia sedang melihat keluar cendela.

Aku melihatnya selama beberapa saat dan ia masih tak bergerak. Aku pun memutuskan untuk bangun namun...

“Jangan bangun dulu jika...” aku mendengarnya berbicara namun terlambat dan aku sudah kesakitan.

Aku menghirup nafas banyak-banyak untuk mentolerir rasa sakitku. “Aw...” gumamku. Aku bergerak lebih pelan lagi dan kembali berbaring. Ku perhatikan ia masih di sana.

“Aku di sini hanya sampai kakekmu datang.” Jawabnya atas pertanyaan yang belum ku lontarkan. Aku bahkan baru memikirkan pertanyaannya sekarang.

“E... Kenapa...” aku tak tahu harus memulai pertanyaan darimana tapi dia benar-benar tidak ku kenal. Suaraku terdengar aneh lagi, pikirku terganggu. Mengabaikan soal itu aku kembali bersuara setelah membersihkan tenggorokanku. “Bagaimana kau bisa berada di sini? Apa yang terjadi pada... Oh!” aku teringat kejadian kemarin. “Apa be... tidak mungkin.” Pikirku menolak. Karena mengatakan ini tenggorokanku jadi terasa semakin sakit. Seharusnya aku tidak berbicara keras-keras terlebih dahulu, kataku mengingatkan. Tapi, aku tidak mungkin mengabaikan kecurigaanku pada orang asing di ruanganku.

“Sebaiknya kau menanyakannya pada kakekmu sendiri. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaanmu.” Jawabnya cuek sambil menengok padaku. Ekspresi wajahnya benar-benar menjengkelkan.

“Apa?” sahutku tak percaya. Aku mulai terbiasa dengan rasa tidak nyaman ketika berbicara.

“Mereka sudah tiba.” Katanya sambil memandang ke pintu. Aku melihat bahwa ia seolah mengetahui apa yang ada di balik pintu.

Apa-apaan dia, kataku dalam hati.

Dan benar, tak lama kemudian pintu terbuka dan kakekku muncul bersama... Tunggu dulu, kataku dalam hati. Aku pun menengok pada orang itu lagi dan ia membalas tatapanku tanpa minat. Ia malah dengan terang-terangan menunjukkan wajah menjengkelkannya. Tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan wajahnya. Aku tidak ingat pernah melihatnya dimana. Orang yang datang bersama kakek juga terlihat tak asing bagiku.

“Karina kau sudah bangun?” tanya kakek.

Aku hanya memandangnya hingga ia berada di dekatku. “Kakek?!” ucapku yang lebih ke tujuan menegur.

Orang itu menempati tempat di sisi laki-laki tadi.

“Syukurlah kau baik-baik saja.” Sambung kakek.

“Apa? Baik-baik saja?” aku yakin sekali kalau ucapanku ini akan menyinggungnya tapi aku benar-benar tersinggung dengan pertanyaan kakek. Padahal jelas-jelas aku tidak baik-baik saja dan sedang di rawat di rumah sakit dengan peralatan-peralatannya di tubuhku. Akan tetapi kakek malah tertawa mendengar pertanyaanku.

“Sepertinya ia sudah lebih baik. Tidak perlu khawatir.” Katanya pada kedua orang itu. Yang baru datang itu tersenyum membalas ucapan kakek dan juga terseyum padaku sementara laki-laki itu terlihat sombong dan sinis. Aku benar-benar kesal padanya meski baru melihatnya sekali.

“Kakek, kau berhutang jawaban padaku.” Tuntutku.

“Ya, aku tahu. Ku pikir sekarang juga sudah waktunya tapi sebaiknya kita tunggu sampai kau keluar dari rumah sakit.” Kakek menunjukkan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Tidak.” Sahutku keukeuh. “Katakan padaku, siapa dua orang itu? Kenapa mereka berada disini? Terlebih kakek membiarkan orang itu berada di ruanganku ketika aku tidur.” Protesku. Aku memandang laki-laki itu dengan pandangan permusuhan.

Kakek sempat tergagap tapi ia sekali lagi tertawa. “Oh, ya. Sebaiknya kita tidak perlu menunda perkenalan.” Gumamnya. “Karina, kenalkan dia Kevin, kau bisa memanggilnya paman. Dia adalah paman jauhmu.” Kata kakek pada orang yang datang bersamanya.

“Hai, Karina. Senang bertemu denganmu.” Sapanya.

Aku hanya memandangnya dalam diam. “Aku tidak tahu kalau aku punya paman.” Kataku kemudian sambil mengarahkan pandanganku pada kakek. Jelas ia harus memberikan penjelasan panjang lebar padaku setelah ini.

“Ya, dia baru datang dari jauh.”

“Bagaimana dia bisa menjadi pamanku?” tanyaku seraya menarik pandanganku kembali. Aku melihat wajah kakek mengeras, mungkin marah karena pertanyaanku itu tapi aku sama sekali tidak menemukan hal yang serupa pada ‘pamanku’, Kevin. Tapi, orang yang satunya, benar-benar... tidak peduli. Wajahnya saja terlihat bosan.

“Yah, ceritanya panjang. Kalau paman, berarti dia keluarga kita ‘kan?”

Aku terdiam sejenak dan mengangguk. “Lalu, dia siapa?” aku mamandang ke laki-laki itu.

“Nah, dia adalah keponakan Kevin. Namanya Dimas.”

Aku hanya memandangnya selama beberapa waktu lalu kembali pada kakek. “Kakek, jelaskan padaku kenapa aku bisa berada di sini?” kataku mengganti topik.

“Bukankah kakek sudah bilang tadi kalau kita akan menunggu sampai kau keluar?” kakek mengingatkan.

“Kakek, aku perlu tahu apa yang terjadi padaku. Kenapa...” ingatanku kembali ke malam itu. Dan tiba-tiba saja aku terkesiap dan merasa nyeri di lengan dan kakiku.

“Ada apa?” kakek mendekatiku. Ia menatapku cemas.

“Kakek, kenapa mereka menggigitku?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku bisa merasakan keterjutan kakek dan juga Kevin. Namun orang yang bernama Dimas itu sama sekali tak terpengaruh dan bersikap terlalu normal di banding yang seharusnya. Aku juga yakin dengan apa yang kurasakan meski tidak melihatnya secara langsung, bahwa aku telah digigit.

Kakek ragu dan ia memandang sekilas pada Kevin. Aku jadi tambah curiga kalau ada yang disembunyikan oleh kakek dariku.

Tak disangka, Dimas melangkah mendekati Kevin dan menggumamkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar suaranya tapi aku yakin kalau ia telah mengatakan sesuatu pada Kevin karena setelah itu ia berbicara pada kakekku.

“Sepertinya kita tidak bisa menundanya lagi. Kami akan menunggu di luar.” Katanya pada kakek.

Aku melihat kepergian mereka dengan kening berkerut. Aku berusaha untuk bangun tapi rasa sakit menghentikanku. Akhirnya aku pasrah dengan tetap berbaring. Setelah kedua orang itu pergi kakek duduk di bangku samping dan menatapku penuh rahasia.

“Apa yang kakek sembunyikan dariku?” tanyaku menyelidik.

“Kau sepertinya tahu kalau ada sesuatu.” Tebak kakek.

“Ya. Tapi aku tidak tahu itu apa. Kakek, apa yang terjadi semalam... Apa sekarang aku sedang bermimpi?” tanyaku kemudian. Aku rasa kejadian kemarin lebih tepat jika disebut mimpi buruk tapi entah kenapa ketika terbangun aku malah beneran di rumah sakit. Bagaimana kejadian itu bisa terjadi, pikirku tak percaya.

“Itu bukan mimpi dan sekarang juga bukan. Maafkan kakek karena baru memberitahumu sekarang.”

“Meminta maaf?” keningku berkerut. “Memangnya apa yang terjadi kakek? Kenapa kakek meminta maaf? Kenapa juga tiba-tiba kakek memperkenalkanku dengan paman itu dan keponakannya setelah sekian lama? Ia bahkan tidak terlihat mirip dengan paman-paman yang lain. Terutama yang bernama Dimas itu, dia terlihat menyebalkan.” Jelasku kesal.

Kakek terdiam sebentar.

“Karina, apa yang akan kakek ceritakan ini adalah cerita yang diceritakan juga oleh kakeknya kakek. Ini adalah cerita keluarga kita. Rahasia kita. Cerita ini akan terus di ceritakan ke generasi-generasi selanjutnya dan begitu pun nanti, kau juga akan menceritakannya pada generasi penerusmu. Dengan kata lain cerita ini diceritakan turun temurun di keluarga kita.”

“Apa sih maksud kakek? Kakek kenapa tiba-tiba membahas tentang kakek buyut?” aku menatapnya tak mengerti. Setelah beberapa waktu aku pun teringat dengan mimpiku beberapa waktu yang lalu. “Oh, aku bermimpi bertemu dengan kakek buyut.” Akuku akhirnya.

“Benarkah?” senyum kecil menghiasi wajahnya.

“Ya.” Aku berusaha mengingat-ingat kejadiannya. Aku pun heran melihat ekspresi kakek yang sama sekali tidak terkejut. Apa ini hanya kebetulan? “Dan, beberapa... OH!” ucapku terkejut. “Mereka, mereka ada di dalam mimpiku juga.” Teriakku heran. Aku memandang kakek meminta penjelasan.

“Mereka... siapa?” tanya kakek hati-hati.

Aku menatap kakek tajam. Selagi membaca ekspresi kakek aku pun berusaha untuk mengingat mimpiku lebih lengkap lagi. “Ah, benar. Dua orang tadi yang kakek kenalkan sebagai pamanku dan keponakannya.” Keningku berkerut ketika mengatakan ini. Aku tahu ini tidak masuk akal. Apakah ini juga kebetulan?

“Hmm, baiklah. Sepertinya kau sudah tahu lebih dahulu.” Gumam kakek. Aku memandangnya tak mengerti.

“Ada satu makhluk di sekitar kita yang keberadaannya ada namun tidak banyak yang tahu. Ia ada tapi keberadaannya tidak diketahui. Hanya orang tertentu saja yang mengetahuinya. Keberadaannya memang di sembunyikan, sengaja bersembunyi dan berada di balik bayangan. Mereka berjalan di balik kegelapan namun ada beberapa yang bisa di bawah cahaya dan beberapa itu memilih gaya hidup berbeda di banding yang lain. mereka lebih terkendali dan bisa hidup berdampingan dengan manusia tanpa tergoda untuk menyakiti atau mengganggu manusia.”

“Apa yang ingin kakek katakan?” aku memandangnya kesal. Semakin lama ucapannya semakin tidak masuk akal.

“Selain itu, mereka juga memilih untuk menghentikan jenisnya yang tak terkendali dan membuat keributan. Seperti polisi tapi ini lebih permanen.”

“Kakek mau mendongengiku?” ucapku kesal.

“Suatu hari, pada suatu daerah mereka tanpa sengaja bertemu dengan seorang manusia yang berbeda dengan yang lain dan yang juga memiliki misi yang sama. Mereka sempat bersitegang namun setelah saling mengutarakan maksud akhirnya mereka bersepakat untuk melakukannya bersama-sama. Namun, dalam ikatan itu harus ada proses memberi dan menerima. Mereka tahu bahwa manusia yang di temuinya itu berbeda di bandingkan yang lain dan keberadaan mereka adalah cobaan yang besar bagi mereka.

“Mereka sempat cemas jika terus-terusan berada di dekatnya, pada suatu hari nanti mereka tidak akan mampu menahan godaan dan malah menyerangnya. Namun, ternyata hal itu tidak pernah terjadi. Kedua makhluk itu pun dapat bekerja sama dengan baik dan keberadaan yang satu dengan yang lain bisa saling melengkapi dan kekuatan mereka tak tertandingi.”

“Lalu, apa hubungan cerita kakek dengan yang terjadi padaku?” tanyaku tak sabar.

“Mereka itu adalah makhluk mitos. Itu mitos karena tidak ada yang mengetahuinya tapi, mereka benar-benar ada dan berada di sekitar kita. Memang tidak banyak tapi mereka sangat kuat dan tak bisa di lawan hanya dengan senjata biasa.”

“Kakek?” suaraku menegur karena sedari tadi kakek mengabaikan pertanyaanku.

Dan setelah lama kakek terdiam akhirnya aku mendengar jawabannya. “Mereka itu adalah vampir.”

“APA?” sahutku cepat. Aku berkedip cepat dan menunggu kelanjutannya namun kakek malah diam dan menunggu responku. “Kakek, kakek mau mendongengiku tentang vampir? Ya, ampun. Aku bukan anak kecil lagi kakek jangan membohongiku tentang cerita itu lagi.” Aku ingat dulu kakek sering menceritakan kisah tentang manusia penghisap darah dan aku tidak percaya ketika aku sudah dewasa ia masih melakukannya.

“Mereka lah yang menyerangmu malam itu.”

“Apa?” sahutku tak kalah cepat.

“Mereka cepat, bertubuh kuat, dan mampu melakukan apapun dengan mudah. Mereka bisa dengan mudah mematahkan tubuhmu,” aku jadi mendengar suara tulang patah, “melempar,” aku membentur dinding, “dan menghisap darahmu.” Aku ingat betapa kuat mereka mencengkram kedua lenganku dan tak lama kemudian sesuatu merayap dengan cepat di sana. Cepat-cepat aku pun menepis ingatan malam itu.

“Jadi, mereka yang melakukannya?” aku melongo, terkejut bukan main. Jujur, aku masih tak percaya.

“Bukan mereka yang berada di luar tapi mereka yang lain. Mereka mencoba balas dendam dan darah keluarga kita memiliki keistimewaan di banding yang lain.” Kakek mencoba menjelaskan.

Aku berkedip cepat. “Kenapa itu jadi masalah? Kenapa aku harus mengalami itu? Kenapa juga kakek mengarang cerita tidak masuk akal seperti ini?” suaraku agak meninggi. Sejujurnya aku lebih kesal dengan cerita tidak masuk akal kakek daripada kenyataan bahwa aku diserang, entah oleh makhluk apa. Namun yang pasti, aku melihat mereka adalah manusia.

“Kakek mengerti jika kau terkejut dan sulit menerima tapi cepat atau lambat kau pasti akan mamahaminya. Ini sudah terjadi secara turun temurun di keluarga kita jadi...”

“Aku hampir mati loh, Kek. Jelas-jelas ada yang berusaha untuk membunuhku tapi kakek malah mendongeng.”

“Karina, kakek mengatakan yang sebenarnya. Mereka benar-benar ada dan mereka mengintai kita. Mereka ada di sekitar kita. Maafkan kakek karena kejadian ini terjadi padamu. Kakek pikir hal ini tidak akan pernah terjadi namun ternyata, mereka lebih nekat dari yang kakek sangka.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya memandang tak percaya pada kakek. Apa sih yang coba ia sampaikan? Kenapa ia mesti menceritakan hal itu padaku?

Part 3

Aku kesal karena tidak bisa kemana-mana dan sejak dua hari ini aku hanya bisa berbaring. Tapi sekarang aku sudah bisa duduk jadi aku merasa lebih baik. Selain itu, aku juga kesal karena orang itu ‘ditinggal’ disini. Ia sangat tidak ramah dan itu mengganggu. Dia juga terlihat tidak senang, begitu pun aku, tapi ia masih saja tetap tinggal.

“Untuk berjaga-jaga Dimas akan tetap disini!” kata kakekku beberapa waktu yang lalu. Dan hingga kini aku masih kesal karena ia benar-benar melakukannya.

Mengikutinya, aku pun dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanku atas keberadaannya di sini, dengan pandanganku. Aku terus memandangnya jengkel tapi ia sama sekali tidak terpengaruh. Ia bahkan sama sekali mengacuhkanku. Kami persis seperti dua orang asing, dan memang demikian. Tidak ada kontak apa-apa, yang ada hanya sepi. Aku bahkan masih belum percaya kalau ia adalah... vampir. Yang benar saja?

“Hei!” panggilku. Ia tak merespon dan tetap membelakangiku tapi aku yakin kalau ia mendengar suaraku. Jadi, aku pun melanjutkan. “Kau benar-benar seperti yang dikatakan oleh kakek?” tanyaku aneh. Setelah beberapa waktu ia akhirnya berbalik dan memandang padaku, untuk yang pertama kalinya. “Kau benar-benar seorang vampir?” tegasku karena ia masih diam.

“Jawaban apa yang kau inginkan?” tanyanya balik. Ia menatapku dengan pandangan tak terbaca. Pandangannya tidak sepenuhnya fokus padaku.

Mendengar ‘jawabannya’, otomatis aku mengerutkan kening. Bukankah aku yang bertanya lebih dahulu?

Aku mendecak lidah sebelum mulai berbicara lagi. “Hmm, aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, kakekku juga. Aku tak percaya kalian sampai memberikan cerita yang tidak masuk akal padaku. Itu sangat... mustahil. Aku juga tidak tahu apa keuntungannya tapi aku tidak bisa menerimanya. Jadi, anggap saja kalau aku percaya.” jelasku.

Ia memandangku beberapa saat. “Itulah dirimu. Tidak masalah kau tidak memercayainya sekarang. Cepat atau lambat kau juga akan mengerti.” Katanya persis seperti kakek.

Keningku berkerut dalam. “Kenapa kepercayaanku seolah berarti banyak?” tanyaku terganggu.

Ku kira ia akan membalas pertanyaanku dengan lebih sengit tapi dengan santai ia malah berkata, “terserahlah. Percuma saja jika ku jawab. Kau tidak akan percaya hanya lewat ucapan bahkan dengan apa yang telah terjadi padamu. Tapi kau perlu berhati-hati karena kami tidak berhasil menangkapnya. Setelah merasakan,” ia berhenti sejenak, nampak menahan nafas dan ekspresinya berubah serius, “darahmu, ia pasti akan segera kembali lagi. Cepat atau lambat.” Tiba-tiba saja ia menatapku dengan tajam. “Darahmu... begitu... mengganggu. Sulit untuk dilupakan.” Ia memandangku ngeri. Entah kenapa aku jadi teringat dengan wajah seseorang yang ‘tidak kukenal’.

Aku mogok bicara setelahnya. Bahkan setelah beberapa hari aku tidak mau berbicara apapun dengannya. Dengan Kevin juga. Aku jadi lebih mewaspadainya karena sikap ramahnya terlihat... dibuat-buat. Kalau saja ia bersikap seperti Dimas akan lebih mudah bagiku untuk menunjukkan permusuhanku.

Cerita di rumah sakit ternyata tak cukup mengejutkanku dan ternyata kakek juga ‘membawa’ kedua orang itu pulang ke rumah. Aku memandangnya tak percaya melihat keberadaan mereka di rumah namun kakek sama sekali tak merasa harus menjelaskan alasannya. Bahkan orang yang bernama Dimas itu, semakin terlihat menyebalkan lagi karena sikap pura-puranya padahal aku tahu betul kalau ia juga tahu keberatanku.

“Kita akan lebih berhati-hati. Kakek bisa merasakan bahwa mereka mengintai rumah kita.” Kata kakek ketika aku berada di dekat cendela.

Aku masih belum bisa berjalan dan hanya di kursi roda. Kakiku patah... parah sementara lengan kiriku juga demikian. Tapi yang lebih menggangguku adalah bekas luka di lengan kananku. Aku di rumah sakit sama sekali tidak ingat kalau disana ada luka, pun sebelumnya ia bersih dari luka. Namun ketika berada di rumah aku melihat ada dua bekas titik yang berdekatan dan jika ku amati lama maka aku akan merasa... seolah melihat sesuatu.

Aku ingat bahwa ada seseorang yang menghajarku tapi tidak mungkin itu ada hubungannya dengan vampir. Kejadiannya begitu cepat jadi aku sendiri juga sulit untuk menerimanya. Seiring waktu melihat perilaku Dimas juga membuatku jadi memaksa sedikit demi sedikit memercayai cerita kakek. Aku tahu ini tidak masuk akal, bahkan akal sehatku juga berkata begitu, tapi semakin hari ia jadi semakin terlihat berbeda.

Kau lebih hafal musuhmu daripada dirimu sendiri. Itulah ungkapan yang tepat untuk menyebutku. Aku merasa sangat terganggu dan semenjak pertama ‘bertemu’ dengan Dimas aku sudah merasa kesal. Karena itulah tanpa ku duga aku jadi memperhatikannya dan akhirnya aku jadi tahu bahwa ia benar-benar berbeda denganku. Dalam beberapa hal tepatnya. Aku sama sekali tak pernah melihatnya makan. Bahkan ia tidak pernah hadir dalam meja makan. Aku juga tidak pernah melihatnya minum atau makan apapun. Biasanya tamu di rumah disuguhi jamuan tapi ia... sama sekali tidak. Kakek juga sama sekali tidak merasa bersalah.

Ini benar-benar aneh.

“Apa kau benar-benar vampir?” tanyaku pada Dimas suatu waktu.

Ia menatapku kesal. Ini adalah yang ketiga kalinya aku bertanya dan ia tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan.

“Kalau kau tidak percaya, kenapa kau terus menanyakan hal yang sama?” tegurnya. Ia lalu pergi meninggalkanku.

Seharusnya aku yang bersikap begitu tapi kenapa dia, pikirku heran.

 

Aku di rumah sendiri dan sama sekali belum bisa pergi kemana-mana. Sekarang lenganku sudah lebih baik tapi aku belum boleh berjalan. Tanganku belum cukup kuat untuk kujadikan tumpuan jadi aku masih tinggal di kursi roda. Tapi, jika hanya berdiri sebentar untuk duduk dan bangkit sendiri dari kursi roda, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak tahu kemana perginya semua orang, kakek yang terutama. Kenapa ia pergi tanpa mengatakan apapun? Aku pun keluar kamar untuk mengatasi kebosanan.

Rumah benar-benar sepi padahal biasanya juga hanya ada aku dan kakek tapi hari ini rasa sepi itu jadi aneh. Aku merasa haus jadi aku mengarahkan kursi rodaku ke dapur dan mengambil minuman dingin di kulkas. Lalu aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar karena tidak ada yang bisa ku lakukan. Di tengah jalan aku terhenti karena melihat sebuah pintu terbuka.

Aku sama sekali belum pernah masuk ke ruangan itu karena biasanya pintu itu selalu tertutup dan kakek sama sekali tak pernah membiarkanku masuk hingga hari ini. Dan karena kakek sedang tidak ada aku pun memutuskan untuk mendekatinya. Aku penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.

Aku sudah berada di depan pintu dan ku intip di dalam gelap. Ku buka pintu lebih lebar lagi dan masih belum ku temukan cahaya. Aku pun menggerakkan kursi rodaku dan tiba-tiba saja ia meluncur tak terkendali. Aku terkejut dan tidak bisa menghentikannya hingga ku sadari bahwa tubuhku melayang di udara.

“Ternyata rasa penasaranmu juga bisa membunuhmu.” Gumam seseorang di belakang.

Aku berusaha mencerna ucapan itu dan kini aku sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak hanya berada di belakangku tapi benar-benar tepat di belakangku. Ia menggendongku. Aku hampir terjun entah ke apa dan untungnya ia menyelamatkanku namun tidak dengan kursi rodaku. Aku tidak bisa menemukan keberadaannya karena gelap. Tapi aku sempat mendengar suara berdebum. Aku juga tidak bisa melihat wajahnya karena itu.

Akhirnya ia pun membawaku keluar dari tempat gelap itu sehingga aku bisa melihat wajahnya.

“Bagaimana kau bisa berada di sana?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku darinya.

Ia menurunkanku di atas sofa. Tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan kulit tangannya. “Dingin.” Gumamku. Ku lihat ekspresinya tetap datar.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambil kursi rodamu.” Katanya sambil berbalik.

“Tunggu!” cegahku. Ia pun berbalik dan menatap padaku. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Aku mengingatkannya. “Bagaimana kau bisa berada di sana padahal kau tidak ada di sini tadi?”

“Aku berada di dekat sini.” Jawabnya pendek.

“Benarkah?” tanyaku meragukan.

Ia membalas tatapanku selama beberapa waktu. Dalam hati aku bersumpah kalau aku tidak akan pernah bisa akrab dengannya.

 

Seiring berjalannya waktu, aku semakin menuju ke kesembuhan. Aku bahkan sekarang sudah bisa berjalan sendiri namun, orang itu, mereka masih tetap tinggal. Aku jadi penasaran, apa yang mereka cari sebenarnya?

Hingga kini aku masih belum akur dengan Dimas. Aku tidak akan pernah mau. Bagaimana mungkin dia yang tidak pernah muncul tiba-tiba saja tinggal di rumah ku lama dan mengaku sebagai pamanku, sebagai vampir? Apa pula hubungan vampir dengan keluarga kami?

“Karina, kakek kira inilah waktunya kau mengetahui kebenarannya.” Ucap kakek pada suatu waktu.

“Kakek! Kakek masih menyembunyikan sesuatu padaku? Kali ini apa lagi? Apakah sepupu manusia serigala?” sahutku tak acuh.

Berbeda dari dugaanku, justru wajah kakek berubah serius padahal aku ingin bercanda dengannya. Aku jadi khawatir karenanya. Apakah itu benar?

Setelah terdiam beberapa waktu akhirnya kakek menggeleng. Aku lega sekali mendengarnya. Akan tetapi...

“Karina, kakek ingin menyampaikan satu hal, satu hal yang merupakan muara dari semua kejadian ini.”

“Kakek akan mengejutkanku dengan cerita apa lagi? Apakah tidak cukup dengan kenyataan bahwa kita tinggal seatap dengan dua makhluk penghisap darah?”

Kakek menggeleng pelan. “Semua berawal dari cerita kakek buyut. Dia sudah diambang maut dan kehadiran mereka membuat hidupnya berakhir lebih cepat. Itu yang dipercayainya namun takdir berbicara lain. Kakek bertemu dengan vampir yang berbeda. Bukannya menyelesaikan bagian mereka akan tetapi mereka malah menyembuhkan kakek. Kakek terkejut, tak percaya bahwa ia yang berusaha untuk memusnahkan vampir memperoleh pertolongan dari vampir juga.” Kakek berhenti sejenak.

“Secara turun temurun, tugas di wariskan ke anaknya, termasuk kakek hanya saja ketika itu terjadi pada kakek ia malah mendapatkan teman dari golongan itu. Alhasil, kakek buyut membuat kesepakatan dengan mereka untuk bersama-sama membasmi vampir. Diawal memang kedengarannya tidak masuk akal tapi hal itu sudah berlangsung hingga hingga kini.”

“Ma... maksud kakek? Kakek...”

Kakek menggangguk. “Ya, kakek juga mendapatkan warisan itu. Kakek menggantikan ayah kakek untuk melayani mereka dan melakukan kewajiban kakek, membunuh vampir yang lain.”

“A..pa?” tanyaku tidak percaya.

“Keluarga kita sudah terikat dengan mereka dan sekarang adalah... giliranmu.”

“APA?!” sahutku keras. “Bagaiman mungkin? aku...”

Kakek terdiam sambil menunduk. “Kakek tahu ini tidak biasa. Sebelumnya, pewaris di pilih dari keturunan laki-laki akan tetapi sekarang, kau adalah cucu kakek satu-satunya jadi.... Meski begitu kakek masih berharap kalau kau tidak...”

“Tentu saja tidak!” sahutku cepat. “Aku tidak akan mau. Bagaimana mungkin aku mendapatkan getahnya padahal itu sudah lama berlalu? Jika mereka memiliki janji bukankah itu hanya berlaku pada pihak yang membuat perjanjian? Kenapa juga aku ikut?!” tolakku keras.

“Kita tidak bisa mengelak.” Jelas kakek. “Karena kejadian itu juga keluarga kita jadi terlihat istimewa didunia mereka. Dalam tubuh kita, kita mengalir darah kakek buyut yang terkontaminasi darah vampir.”

“Apa?”

“Karena itulah mereka menyebut darah kita manis. Disisi lain, darah kita bisa memberikan keistimewaan pada mereka karena itu, dimana pun kita berada mereka akan dengan mudah menemukan kita.”

Bayangan kejadian waktu itu pun segera memenuhi ingatanku.

Part 4

Semenjak aku mendengar kebenaran dari kakek aku jadi semakin tidak menyukai mereka, utamanya Dimas. Aku hampir setiap hari mengamati dan aku yakin dengan pandaganku sendiri bahwa ia mengetahui dengan pasti ketidaksukaanku. Tapi entah kenapa ia tidak pergi padahal aku sudah berkali-kali mengatakan padanya kalau aku tidak akan mengikuti harapan kakekku, tepatnya kakek buyutku. Bagaimana bisa dia menentukan masa depan anak cucunya sendiri tanpa memedulikan keinginan mereka?

 

Aku tak mengerti kenapa aku tidak bisa kesana. Uh, bukannya tak bisa tapi tak dibolehkan. Aku pun jadi semakin tak mengerti kenapa aku terjebak disini bersama Dimas.

“Aku harus melihat kakek!” kataku untuk yang kesekian kali. Namun, Dimas kembali menghalangiku untuk yang kesekian kalinya juga. “Minggir!” suaraku agak keras.

“Kau tidak akan kemana-mana!” ucapnya datar.

“Kenapa tidak?” sahutku ketus.

Aku pun berusaha untuk menerobos ‘penjagaannya’. Aku mencemaskan kakek. Aku merasakan sesuatu sedang terjadi padanya. Terlebih, ekspresinya terakhir kali... membuatku tak bisa melupakannya. Aku yakin kalau ada yang disembunyikan olehnya. Angin dingin yang berhembus juga membuatku jadi semakin khawatir. Aku yakin dan aku tahu kalau kakek berada tak jauh di depanku meski aku tidak bisa melihatnya. Tapi, perasaanku menyakini hal itu dan membuatku jadi gelisah. Aku melihat ada yang aneh dengan kepergian kakek hari ini karena itu aku jadi tidak tenang.

“Aku diminta untuk menjauhkanmu dari bahaya.” Jawabnya datar.

“BAHAYA APA?” teriakku. “Aku yakin di sana ada kakek, dia dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya!”

Ia masih menghalangi jalanku. Aku memandangnya marah tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia tetap dengan pendiriannya.

Aku mencoba cara lain. Aku sudah sangat marah karena itu aku tidak peduli lagi dengan dia yang menghalangi jalan sehingga dengan sengaja aku menabraknya.

“Aw...” teriakku. Aku terpental dan jatuh ke belakang. Kepalaku terasa mau pecah karenanya.

“Kau baik-baik saja?” suaranya menyesal.

“Kau pikir aku masih baik-baik saja setelah apa yang kau lakukan?” sahutku sengit.

Tubuhku terasa sakit karena jatuh. Aku tak percaya kalau tubuhnya sekeras itu hingga membuatku terpental dan kesakitan. Aku mendengus kesal karena ketidaknyamanan ini. Sejenak aku melihatnya cemas tapi dengan cepat ia menepisnya. Ia tidak pernah peduli bukan? Dia bahkan bukan manusia, kataku mengingatkan diri.

“Kau, baik-baik saja? Aku tidak bermaksud...”

“Tentu tidak baik.” Sahutku keras. “Dengan hanya disini tanpa melakukan apa-apa... Aku harus melihat kakek. Aku harus menolongnya! Ia dalam bahaya!” bentakku. Aku berdiri meski tubuhku masih terasa sakit.

“Aku harus menjagamu tetap aman.”

“Bagaimana dengan kakek? Aku baik-baik saja!” ia menghalangi langkahku lagi.

Aku menatapnya kesal tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ini menjengkelkan dan ia tidak melakukan apapun yang bisa membuatku merasa lebih baik. Satu-satunya yang membuatku cemas adalah kakek karena itu aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri.

Aku menerobos tapi dengan gesit ia sudah berdiri di depanku dan menghalangi jalanku. “Minggir!” suaraku berat. Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.

“Itu keputusannya.” Suaranya menerawang. Aku pun otomatis mendongak dan menatap padanya. “Ia memilih untuk melakukan ini jadi kau jangan menyia-nyiakan dirimu sendiri!”

Aku terperangah dan menatapnya tak percaya. Aku melongo melihatnya. Aku pun berusaha untuk mengeluarkan suaraku tapi suaraku teredam dan lidahku kelu.

“Bagaimana bisa kau berkata begitu?” sahutku. “KENAPA IA MESTI MELAKUKANNYA?” aku melotot padanya. Aku takut membayangkan apa yang ada dipikiranku.

Dimas terdiam. Aku menunggunya berbicara beberapa waktu tapi ia masih sama. “A...” akan tetapi dia menyelaku.

“Dia melakukannya untukmu!” entah kenapa sekarang aku merasakan adanya emosi diperkataannya.

Mataku semakin lebar menatapnya.

“Apa... yang... kau... bicarakan?” kataku terperangah. Aku menatapnya selama beberapa waktu dan kami masih tak bergeming. Selang beberapa waktu kemudian aku mendengar suara ledakan keras dan membuatku terkesiap. Udaranya menusuk kulit dan kulihat tubuhnya menegang. Seketika pandanganku pun tertuju ke tempat kakek berada.

Perasaan aneh tiba-tiba mengisi keteganganku dan tanpa tahu penyebabnya aku jadi ingin menangis. Detik itu juga aku yakin kalau sesuatu telah terjadi.

Aku melihat ekspresi kosong Dimas. Aku tidak tahu kenapa tapi aku jadi semakin cemas karenanya. Malahan takut.

“Apa yang telah terjadi?” tanyaku. Ia tak menjawab sehingga aku pun mengulanginya lagi. “Apa yang telah terjadi?” suaraku lebih tegas. Aku menarik bajunya, mengancam, meski aku tahu itu sia-sia.

Ia terdiam beberapa waktu sebelum menjawab pertanyaanku. “Sebaiknya kita pergi dari sini!” putusnya tiba-tiba.

“Apa?” sahutku tak percaya. “Katakan padaku, APA YANG TELAH TERJADI?” aku memberikan penekanan pada setiap katanya.

“Aku harus membawamu pergi dari sini!”

Aku melihatnya bergerak sehingga otomatis aku pun mundur. Aku tahu bahwa ia mengetahui sesuatu yang tidak ku ketahui. Ia pernah mengatakan tentang kemampuannya jadi tidak mungkin ia tidak tahu apa yang telah terjadi disana. Aku menatapnya dengan genangan air mata tapi sekuat tenaga aku menahannya agar tidak mengalir. Pikiran ini menyesatkan jika aku tidak melihatnya secara langsung. Meski pikiran ini terasa begitu yakin tapi aku tidak bisa memercayainya bila aku tidak melihatnya secara langsung.

“Aku... harus... melihat kakekku!” suaraku terdengar memohon. Aku sempat terkejut mendengarnya. “AKU HARUS MEMASTIKAN KEADAAN KAKEK!” suaraku lebih tegas. Aku menatapnya memohon.

“Kau...” suaranya menggantung.

“Tunjukkan padaku apa yang kau lihat!”

“Aku...” ia terlihat ragu.

Aku memutuskan semuanya dengan mengatakan kalimat ini, “aku siap melihat apapun hasilnya asalkan aku bisa melihat kakek lagi. Aku ingin melihat kakek dengan mata kepalaku sendiri. Kakek keluargaku satu-satunya, aku tidak memiliki yang lain. Aku ingin bertemu dengannya!” mohonku.

Ia membalas pandanganku dengan pandangan tak terbaca. Tapi ia cukup lama tak menarik pandangannya sehingga aku memiliki pemikiran kalau ia sedang mempertimbangkan permintaanku.

“Baiklah.” Katanya kemudian. Bukannya senang mendengar persetujuannya aku malah jadi merasa tidak tenang dengannya. “Biarkan aku membawamu!” lanjutnya sehingga aku pun kembali terfokus padanya.

Dimas menggendongku sehingga dalam waktu singkat aku sudah sampai di tempat tujuan. Namun setelah aku turun dari gendongannya aku tidak melihat keberadaan kakek. Aku melihat sekeliling tapi aku tidak bisa menemukannya. Rasa cemas pun membuat dadaku jadi sesak.

“Dia berada disana!” Dimas menjelaskan kebingunganku.

Aku pun menoleh ke tempat yang ditunjuk oleh Dimas.

Aku menatap ke tempat itu selama beberapa waktu. Lalu, dengan langkah pelan aku berjalan ke sana. Namun baru beberapa langkah lengan Dimas menghalangi lajuku sehingga aku sempat terhenti.

“Kau masih memiliki waktu untuk mengurungkannya.” Ia mengingatkan. “Tapi, aku menyarankan agar kau tidak melakukannya!”

Ucapannya terdengar menjengkelkan tapi aku tidak ingin berdebat dengannya lagi sehingga aku menyingkirkan lengannya dari jalan dan melanjutkan langkah.

“Aku harus melihatnya!” tegasku.

Aku pun meneguhkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan kulihat nanti. Aku tahu dan rasa itu begitu kuat namun aku berusaha untuk lebih memercayai kamungkinan baik yang akan ku lihat nanti. Meskipun terasa membohongi diri tapi aku ingin sesuatu yang baik yang kulihat. Aku ingin melihat kakekku yang baik-baik saja. Aku ingin pulang bersamanya.

Ini bagus karena Dimas tidak berusaha untuk menghalangi jalanku lagi tapi setiap kali jarak itu berkurang langkahku jadi terasa semakin berat. Seiring berjalannya waktu akhirnya aku pun sampai dan melihat apa yang ingin untuk kulihat. Namun aku meragukan pandanganku. Aku tidak mungkin memercayai bahwa orang yang tergeletak itu adalah... kakek. Aku berdiri tak tahu berapa lama menatap ke seorang itu yang berlumuran darah dan tidak jelas wajahnya.

“Dia, sudah... meninggal!” ucap suara di belakang.

Aku membeku di tempat memandang nanar pada seonggok daging yang mirip manusia. Aku berusaha untuk mengeluarkan kata-kata tapi tidak ada satupun suara yang keluar. Setelah cukup terkejut aku pun melangkah mendekatinya tanpa memalingkan pandanganku darinya sedikit pun. Aku tidak tahu, apakah aku harus mempercayai penglihatanku ataukah keyakinanku. Aku tidak bisa menemukan pertanda bahwa ia adalah kakekku.

“Apa kau baik-baik saja?”

Aku terkejut bukan main begitu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhku menggigil di pelukannya dan aku tidak bisa menepisnya. Tubuhku terlalu letih untuk melawan kekokohannya. Aku pun menangis sedu hingga aku jatuh dan hilang kesadaran.

 

Sebulan lebih aku diam tanpa sekalipun bicara. Ini bukanlah diriku yang sebenarnya, berdiam diri bukanlah gayaku. Akhirnya setelah sebulan penuh aku memikirkannya aku pun sudah sampai pada keputusan yang akan ku ambil.

“Aku sudah memutuskan!” ucapku begitu pintu terbuka.

“Baguslah kalau begitu!” sahut Dimas. Ia pasti sudah menunggu jawabanku lama. Aku yakin ia lega karena ia mendapatkan apa yang diharapkannya.

“Aku, setuju untuk menjadi pelayanmu!” tegasku sambil menatap padanya.



di pojok Jombang, 24 Juli 2020